Terjebak Nostalgia

Bukan, tulisan ini bukan ngebahas tentang percintaan, bukan juga ngebahas tentang lagu galau yang cukup nge-trend jadi kalo lagi pengen membaca tentang percintaan atau lagu galau, move along, nothing to see here..

Terjebak Nostalgia

Tulisan ini berawal dari obrolan iseng kesana kemari tanpa arah yang saya lakukan dengan teman saya kemarin malam saat terjebak hujan.

C: “Buat gw sih masa-masa paling enak tuh masa-masa kuliah”

A: “Hmm, iya sih enakan jaman kuliah dulu daripada sekarang..”

Salah satu kebiasaan buruk saya adalah tenggelam dalam kenangan masa lalu, selalu membanding-bandingkan keadaan sekarang dengan keadaan dulu. Kebiasan ini seperti pisau dengan dua sisi tajam, di satu sisi terkadang membuat saya bisa bersyukur dengan hal-hal yang saat ini lebih baik dibandingkan masa lalu, namun di sisi lain terkadang malah membuat gak bersyukur dengan keadaan yang ada dan ingin rasanya kembali mengalami kehidupan di masa lalu. Kalo bahsa keren-nya sih, susah move on.

Waktu SD terkadang berpikir, enak ya waktu TK sekolahnya cuman main-main aja gak ada PR.

Waktu SMP juga masih suka berpikir, waktu SD enak ya pelajarannya ga rumit, sekolahnya sebentar, PR nya juga gak banyak.

Waktu SMA kembali berpikir, ah enak dulu waktu SMP, pelajarannya gak ribet, masih lebih banyak waktu main, gak pusing mikirin mau kuliah kemana.

Waktu kuliah juga, hmm, rasanya enak waktu SMA, masih tinggal deket rumah, bisa sering ketemu orang tua.

Celakanya sekarang ini juga saya merasa masa kuliah lebih enak daripada kerja karena satu dan lain hal.

Mungkin kebiasaan ini dipengaruhi oleh sisi melankolis saya yang sangat dominan. Seringkali tiba-tiba terbayang keadaan di masa lalu dimana terdapat beberapa kemiripan dengan masa sekarang. Misalnya saat saya menulis tulisan ini, jam 3 sore dan di luar hujan deras, tiba-tiba teringat masa kelas 1 SMA dimana saya dan teman saya pernah terlambat kembali ke kelas setelah istirahat karena terjebak hujan selepas shalat di masjid. Gak penting? Yup, tapi terkadang akumulasi hal-hal gak penting itulah yang membuat saya kangen dengan keadaan di masa lalu.

Yang perlu disadari, mungkin pas kita ngalamin suatu kejadian di masa lalu tersebut, rasanya gak indah sama sekali. Apa coba yang indah dari terjebak hujan di masjid? Gak ada kan? Yang ada kesel malahan ga bisa balik lagi ke kelas. Tapi entah kenapa kalo diinget-inget sekarang, rasanya pengen deh kembali ke masa-masa tersebut. Jadi, harusnya sih sekarang mulai ngebiasain diri, mensyukuri tiap hal kecil yang terjadi saat ini, karena bukan ga mungkin di masa depan saya bakal kangen masa-masa sekarang, menulis sebuah racauan di tengah hujan Kota Bogor.

Terkadang juga muncul racauan di kepala semacam “Coba kalo dulu gak X”, “Seandainya dulu gw Y”, yang sialnya bisa mengganggu dan menghancurkan mood dalam sekejap. Padahal kan toh kata seandainya, coba kalo, dan kawan-kawannya itu gak bisa merubah keadaan yang terjadi sekarang kan. Yang ada seharusnya kita bisa belajar dari hal-hal yang telah terjadi, sehingga jangan sampai kita mengulangi kesalahan yang sama di masa yang akan datang.

Karena pada akhirnya sih gak ada kesempurnaan dalam hidup, pasti ada senengnya dan ada gak senengnya, meskipun kita lebih cenderung inget hal-hal yang menyenangkan aja. Jadi sih semoga nantinya, ke depannya, saya bisa lebih menikmati hidup di masa sekarang. Karena katanya, hal yang paling jauh dari manusia itu adalah waktunya yang telah berlalu. Seindah apapun masa lalu, ya itu udah terjadi dan ga bisa diulangin lagi. Sepahit apapun kondisi sekarang, itulah kenyataan hidup yang harus dijalanin. Kalo masa sekarang dipakai terus-terusan merenungi dan menyesali masa lalu, bisa-bisa masa depan kita juga akan habis untuk menyesali masa-masa sekarang yang kita pakai untuk menyesali masa-masa lalu kita (ribet ya? Gitu deh pokoknya..)

Kalo katanya orang-orang bijak sih:

The clock is running. Make the most of today. Time waits for no man. Yesterday is history. Tomorrow is a mystery. Today is a gift. That’s why it is called the present.

Yah, simpelnya, semoga di masa depan nantinya saya gak menyesal pernah menulis racauan seperti ini 🙂

Advertisements

Sirkuit Kehidupan

Image

Pernah nonton Formula 1 atau MotoGP? Atau setidaknya tau tentang kedua kosakata tersebut? Singkatnya sih keduanya sama-sama ajang adu kecepatan kendaraan di sirkuit. Setiap pembalap akan mengelilingi sirkuit sejumlah putaran yang telah ditentukan, dan berlomba untuk mencapai garis finish terlebih dahulu. Saya dapat dikatakan cukup menggemari kedua acara ini, setiap kali ada balapan, saya selalu berusaha menyisihkan waktu untuk menyaksikannya, walaupun hanya dari layar kaca.

Disini sih saya ga akan ngebahas tentang bagaimana hebatnya Fernando Alonso mendahului lawan-lawannya di hairpin, saya juga ga akan ngebahas tentang gimana hebatnya Valentino Rossi melibas setiap tikungan dengan kecepatan tinggi di sirkuit balap, sama sekali enggak, seperti biasanya, tulisan saya ini kembali memaksakan hubungan antar hal yang sebenernya ga ada nyambung-nyambungnya.

Kalau diperhatikan (sebenernya ga perlu diperhatiin juga sih, hal umum kok ini), balapan di sirkuit memiliki sebuah karakteristik, dimulai dari garis start, diakhiri di garis finish, yang mana garis start dan garis finish itu sendiri berada di tempat yang sama. Jadi intinya mau sudah puluhan lap yang dilalui, perpindahan kendaraan dapat dikatakan hampir mendekati nol (ya ya ya, I know, ada jarak dari garis finish ke parc ferme, tapi anggep aj hampir nol deh ya..*maksa*). Dalam balapan, hal ini gak masalah, karena emang tujuan akhirnya ialah menjadi yang tercepat melintasi garis finish, tapi coba dipikir, gimana kalo hal ini terjadi dengan hidup kita.

Pernah gak ngerasa kalo hari-hari berlalu begitu saja? Membuka mata bangun pagi, menjalankan aktivitas di siang hari, pulang ke rumah di malam hari, lalu tidur, rasanya hidup gitu-gitu aja. Capek, tapi ya ga berasa ada peningkatan apa-apa. Sama aja seperti kendaraan yang sedang berjalan di sirkuit, mau ngebut habis-habisan pun, ujung-ujungnya akan berakhir di tempat yang sama. Mau semua tenaga udah dikerahkan buat ngelakuin yang terbaik setiap harinya pun, yang ada cuman ngerasa capek aja, tapi progress hampir mendekati nol. Mungkin ini semua terjadi karena gak adanya tujuan hidup.

Tanpa tujuan, kita gak tau harus ke mana, kita gak tau usaha yang kita lakukan untuk apa, dan pada akhirnya mungkin kita bakal ngerasa stuck, hidup seakan ga ada perkembangan, hanya rutinitas biasa yang harus dijalani. Beda sekali kalau kita tahu ingin ke mana, meskipun dalam sehari progress nya hanya selangkah, tapi karena kita yakin selangkah itu menuju ke arah yang benar, kita bisa tersenyum puas. Tujuan akhir dari balapan di sirkuit adalah kembali ke garis awal, tapi apakah seperti itu dalam hidup? Saya rasa tidak, rugi sekali orang yang hari ini tidak lebih baik dari hari kemarin, apalagi jika hari ini lebih buruk dari hari kemarin.

Saya pernah merasa terjebak dalam sirkuit kehidupan tersebut, dan apa yang saya lakukan sekarang? Pitstop! Berhenti sejenak, mengatur ulang setting kehidupan, mengorbankan sedikit waktu, demi nanti-nanti yang lebih baik. Percuma aja terus-menerus menghabiskan tenaga kalau masih gak tau untuk apa tenaga itu dihabiskan. Lebih baik berhenti sejenak, berpikir, tentukan tujuan, ubah hal-hal yang gak sesuai, sehingga nantinya tenaga yang dikeluarkan gak akan sia-sia.

Seperti di balapan, saat melakukan pitstop tentu ada waktu yang dikorbankan, yang membuat progress kita lebih lambat, tertinggal dari rekan-rekan lain. Tapi hey, saat setting yang tepat sudah ditemukan, kita dapat melaju lebih cepat, mengejar ketertinggalan, dan mungkin malah dapat melesat jauh ke depan. Dan sekali lagi, kalau harus menganalogikan kehidupan dengan balapan, tampaknya analogi yang tepat adalah bukan dengan balapan sirkuit, tapi dengan reli, dimana kalau kita gak tahu tujuannya ke mana, mau mengemudi secepat apapun kita gak akan pernah menyentuh garis finish.

Satu hal lagi yang penting, kalau hanya membicarakan soal duniawi hidup ini sebenernya bukan balapan, setiap orang punya tujuan yang berbeda, dan cara yang berbeda pula mencapainya. Toh pada akhirnya yang kita kejar adalah kebahagiaan, dan definisi kebahagiaan itu akan berbeda bagi tiap orang. Jadi kenapa harus memaksakan diri bersaing dengan yang lain? Yuk coba berhenti sebentar, berpikir, apa sih yang sebenernya mau kita capai dalam hidup? Semoga kita ga termasuk orang-orang yang menghabiskan tenaga tanpa tahu harus ke mana. Semoga suatu saat nanti, kita bisa mencapai garis finish dan dapat dengan bangga mengingat perjuangan kita untuk sampai ke sana.

Well, in the end, happiness is a state of mind anyways 🙂

Two-enty Five!

Image

Jadi ceritanya harusnya tulisan ini dibikin sekitar dua hari yang lalu, namun karena males sesuatu dan lain hal, jadi barulah dibikin sekarang.

Ada yang bilang waktu itu relatif, bener juga kalo dipikir-pikir. Rasanya waktu mulai kuliah dulu, masa-masa SD itu udah lama banget berlalu. Rasanya juga, kalo diinget-inget sekarang, masa awal kuliah tuh kayak baru aja dialamin. Oke, coba kita lihat realitanya, lulus SD tahun 2000, masuk kuliah 2006, dan sekarang tahun 2013. Ternyata jarak dari awal kuliah ke SD tuh “cuman” 6 tahun, dan jarak dari awal kuliah ke saat sekarang udah 7 tahun! Jadi rasanya kata-kata orang tua saya yang sering bilang “Rasanya baru kemaren kamu segede gini * sambil kasih isyarat tangan yang menyatakan bahwa saya pernah bisa masuk ke kolong meja tanpa harus jongkok *, ga kerasa sekarang udah kerja aja”, menjadi masuk akal. Tampaknya persepsi kita terhadap waktu terus berubah seiring dengan semakin lamanya kita menjalani hidup di dunia.

Waktu masih anak-anak, kalo ngeliat orang kuliahan itu rasanya udah kayak liat orang gede, ngebayangin pasti udah dewasa banget kalo udah mulai kuliah, apalagi kalo udah kerja. Kenyataannya sekarang? Rasanya masih sama aja kayak dulu, masih seneng main, nonton kartun, bakan nyanyi-nyanyi di kamar mandi. Terkadang penasaran, kalo diri saya yang sekarang ini bisa terlihat oleh saya di masa kecil dulu, kira-kira saya bakal tetep ngeliat saya versi gede ini kayak saya mandang orang-orang gede lain di masa kecil dulu gak ya?

Anyway, sekarang saya tiba di pertengahan usia 20-an, yang mana menurut kabar, usia antara 20-30 diri seseorang bakal mengalami banyak perubahan, masa-masa transisi dari akhir masa remaja ke masa dewasa. Dari sekian banyak hal yang telah terjadi, baik yang direncanakan maupun gak direncanakan, pertanyaannya sekarang, udah sampai dimanakah saya saat ini?

Ngeri juga ngebayangin waktu yang berputar makin cepat, setidaknya menurut perasaan kita, tau-tau nanti gak kerasa udah habis waktu tinggal di dunia ini. Persoalan waktu ini dari zaman dulu sampai nanti akhir zaman harusnya hanya masalah “kau gunakan untuk apa waktumu?” , ini pertanyaan klasik yang sebenernya gampang dijawab, tapi masalahnya lagi, segimana berbobot jawabannya. Semua orang punya waktu yang sama, sehari versi Matt Damon 24 jam, sehari versi Bill Gates juga 24 jam, dan tentunya sehari versi saya juga 24 jam. Tapi kayak yang bisa diliat sekarang, Matt Damon ada dimana, Bill Gates sibuk ngapain, dan saya masih sibuk duduk disini bikin tulisan ini.

Terkadang saya coba melihat ke atas, banyak orang di usia yang sama, atau bahkan lebih muda dari saya sudah bisa melakukan hal-hal yang bahkan ngebayanginnya aja saya gak pernah. Gak usah jauh-jauh, banyak temen-temen yang saya kenal yang udah ngelakuin hal-hal luar biasa di usianya yang relatif masih sangat muda. Iri? Tentu, siapa yang gak ingin melakukan hal-hal hebat yang bisa membawa banyak manfaat bagi orang banyak. Tapi kalo dipikir lebih jauh, kenapa saya harus iri kalau ternyata usaha yang mereka lakukan jauh berlipat ganda dari usaha yang saya lakukan. Bukankah Tuhan sendiri Maha Adil? Setiap orang akan mendapatkan yang sesuai dari apa yang diusahakn.

Intinya, sekarang saya masih jauh ketinggalan dari banyak orang, setidaknya saya bersyukur saya masih diberi kesadaran buat menyadari hal tersebut. Lalu sekarang, kembali ke pertanyaan klasik tentang waktu, mau digunakan untuk apa waktu yang saya miliki ini? Tetap seperti kemarin-kemarin yang hasilnya begini-begini saja? Atau mencoba hal-hal baru yang mungkin akan memberikan hasil yang berbeda? Cuma waktu yang bisa menjawab.. Semoga nanti, suatu hari entah kapan, saat saya kembali membaca tulisan ini, saya bisa tersenyum mengingat hal-hal yang saya lakukan dalam jeda waktu dari sekarang, sampai suatu hari nanti tersebut 🙂

Analogi Sepatu

Sudah sekian lama sejak terakhir kali saya menuliskan sesuatu di blog ini. Ya, ada alasan tersendiri kenapa saya malas nulis, karena menulis mengingatkan saya pada sesuatu, yang sebenernya indah untuk dikenang, tapi akan lebih baik kalau disimpan rapat-rapat 🙂

Dari kalimat pembuka dan pemberian kategori ‘racauan’ pada tulisan ini, cukup jelas bahwa isi dari tulisan ini adalah tumpahan isi kepala dan hati yang sedang patah bergejolak. Jadi kalau sekiranya di hari kesehatan mental sedunia ini anda yang membaca tulisan ini (kalau ada) mengharapkan tulisan yang membuat tersenyum, stop, silahkan pilih bahan bacaan lain.. Hehe..

Sepatu

Anyway,
Tau sepatu? *pertanyaan macam apa ini*
Yup, sepatu yang saya maksud memang sepatu yang biasa kita gunakan untuk alas kaki. Bentuk dan warnanya macem-macem , bahannya juga macem-macem. Bahkan dari model sepatu yang sama pun ukurannya bisa beda-beda. Nah, dari berjuta model dan ukuran sepatu tersebut, tingkat kesukaan tiap orang juga beda-beda, mungkin sepatu X yang disenengin ama si A justru dianggep jelek ama si B.

Saya termasuk orang yang ribet kalo pilih sepatu. Pernah muter-muter keluar masuk toko sepatu berjam-jam dan akhirnya ga jadi beli karena ga nemu model yang pas. Sebaliknya, pernah juga maksain beli sepatu yang ukurannya ga pas, karena ngerasa modelnya bagus banget, ya ujung-ujungnya ga kepake sih akhirnya sepatunya.

Saya percaya, masing-masing dari kita punya kriteria tersendiri dalam memilih sepatu, saya misalnya selalu pilih sepatu yang ga ada tali-nya ini syarat mutlak saya dalam memilih sepatu, makannya suka susah kalo milih sepatu soalnya ga terlalu banyak pilihan model sepatu tanpa tali. Nah, karena relatif jarangnya keberadaan sepatu tanpa tali, pernah sekalinya nemu model sepatu yang oke banget, saya nekad beli, padahal ukurannya gak pas. Hasilnya? Jelas ga nyaman dipake.

Nah, berhubungan dengan cerita sepatu tadi, ada kalanya persoalan kehidupan ini mirip dengan kondisi memilih sepatu tadi. Terkadang kehidupan menghadapkan kita pada keadaan yang memenuhi apa yang kita cari selama ini, tetapi ada suatu hal yang emang ngebuat kita ga bisa memaksakan diri untuk tetap berada pada keadaan tersebut. Layaknya udah nemu sepatu yang modelnya oke, harganya pas, warnanya indah, tapi ukurannya gak pas. Memang, kalo ngikutin yang namanya emosi, pasti awalnya rasanya pengen banget tetep make sepatu tersebut, ‘ah cuman sempit sedikit kok’, ‘ah lama2 juga melar’, dan masih ada banyak alasan lainnya yang bisa menjustifikasi tindakan tersebut. Tapi kalo dipikir baik-baik, buat apa sih terlihat oke kalo ternyata emang ga enak, nyiksa malah, ujung-ujungnya bikin kaki lecet atau bahkan bisa bikin sepatunya jebol kalo dipaksain tetep dipake. Tapi tetep aja ada rasa ‘ga rela’ kan ngelepasin sepatu yang udah kita rasa paling oke dan memenuhi semua kriteria yang kita inginkan dari sebuah sepatu?

Hal seperti ini yang menuntut kedewasaan dan penggunaan akal sehat secara benar-benar sehat. Mungkin ya emang ga pas aja, mungkin emang waktunya yang salah, atau banyak mungkin-mungkin lainnya yang bisa terus menjadi pertanyaan. Yang perlu diyakini sekarang, saat ini emang ‘sepatu’ dan ‘kaki’ ini ga bisa dipaksakan untuk berjalan bersama. Entah di waktu yang akan datang. Mungkin si ‘kaki’ bakal nemu sepatu lain yang lebih cocok, mungkin si ‘sepatu’ bakal nemu kaki dengan ukuran yang pas buat mengenakannya, atau mungkin secara ajaib nanti ukuran ‘kaki’ ataupun ‘sepatu’ bisa jadi pas? Who knows, miracle do come true anyway 🙂

Tapi buat sekarang, daripada bikin kaki lecet dan sepatu jebol *yang mana jadi zero sum game* , katakanlah emang harus diikhlaskan bahwa sepatu itu bukan buat saya. Berat sih, banget malah, tapi sesuai dengan kata-kata mutiara yang saya dapatkan di social media sebelah : “Melepaskan bukan berarti menyerah, tetapi lebih kepada memahami bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dipaksakan”, memang harus diikhlaskan demi kebaikan bersama, lagi-lagi saya dapat pelajaran hidup yang berharga 🙂

Teringat potongan lirik lagu zaman masih muda dulu *sekarang juga belum tua sih* :

Ternyata kita sampai pada jalan yang berlainan arah,
Ternyata kita harus memilih,mana jalan yang terbaik tuk semua..

Semua yang terjadi ga akan sia-sia..
Semoga ini memang jalan yang terbaik untuk semua..
Saya percaya 🙂

Ditulis di atas CommuterLine SUD-BOO, 101012 17:40, di tengah mendungnya langit Depok..

Dua

Oke, tulisan ini sudah menghantui kepala saya dan memang seharusnya saya publish tanggal 8 kemarin. Bahkan sempat terpikir tulisan ini ga akan pernah di publish, tapi entah kesambet apa malam ini pengen nge publish tulisan ini

Hidup itu lucu. Rasanya baru kemarin ngerasain bisa terbang lagi setelah lama jatuh, dan rasanya lagi waktu itu ngerasa ga bakal bisa jatuh lagi. Terlalu sombong kali ya ngerasa ga akan jatuh lagi, sampai-sampai kehidupan datang tiba-tiba kayak meteor yang menghantam burung yang baru belajar terbang. Oke, analogi ini berlebihan.

Pernah ngerasa bingung akan alasan kenapa suatu hal bisa terjadi? Seringkali jawabannya baru bisa ketemu beberapa lama setelah hal yang dibingungkan itu terjadi. Anehnya, hidup itu terkadang ga pengen kita puas dengan jawaban yang kita temukan, ketika kita ngerasa pertanyaan yang lama itu udah terjawab, ternyata apa yang kita anggap sebagai jawaban itu malah pada akhirnya memunculkan pertanyaan yang sama. Dan buat saya, bertemu jawaban yang kembali menjadi pertanyaan itu menyebalkan, karena berarti harus menunggu sebuah jawaban lagi, yang belum tentu jawaban tersebut nantiya ga bakal berubah jadi pertanyaan lagi.

Mundur dulu. Pertanyaan nya sekarang bukan kenapa jawaban itu berubah jadi pertanyaan berikutnya. Sekarang masih jadi misteri apakah bahkan jawaban itu bener pernah terjadi atau cuman ilusi belaka. Apa semua yang pernah dirasakan itu bener, apa cuman ilusi yang demikian indah sehingga walau dulu saya tau itu ilusi tapi saya tetap bersikeras itu nyata?

Dalam interaksi antara dua orang, ga mungkin ada kata egois bagi satu pihak. Ketika si A mau sesuatu dan B ga mau, dan si A bilang si B egois karena si B ga mau, pada dasarnya si A juga egois karena ga bisa ngerti si B. Bingung? Sama. Mungkin dulu pemahaman egois saya terlalu naif, berusaha buat terlihat ga egois dengan mengikuti ego untuk terlihat ga egois, bukan ngikutin kata hati. Atau sebenernya itu bener kata hati saya? Entahlah, rasanya belum pernah duduk bareng dan ngobrol santai sama hati saya buat tau jawaban sebenernya.

Kadang saya bingung kenapa zodiak saya ga gemini ya? Rasanya suka ada 2 suara yang bicara di kepala dalam menghadapi apapun. Sama dong kayak gemini yang logo-nya ada 2 wajah? Bahkan sampai sekarang saya ga bisa mastiin, suara mana yang ngendaliin logika, suara mana yang ngendaliin perasaan. Mastiin aja mana yang siapa ga bisa, gimana mau mutusin mau dengerin yang mana. Bingung? Sangat.

Bukan peristiwanya, sama sekali bukan. Yang bikin masih limbung sampai saat ini justru karena kebanyakan tanda tanya yang memenuhi kepala saya. Tanda tanya yang entah bakal kejawab atau engga. Sekarang cuman bisa bergerak pakai asumsi. Terkadang malah takut, takut ketika denger jawabannya ternyata lebih menyeramkan. Apa bener ada hal-hal yang lebih baik ga kita tau? Kalo emang bener ada hal seperti itu, kenapa kita masih bisa merasa penasaran atasnya? Dan kenapa juga saya masih mencari jawaban disaat terkadang saya merasa takut buat mengetahui jawabannya?

Pernah denger phoenix? Burung api legendaris yang ada di cerita-cerita khayalan negeri dongeng. Burung ini bisa terbakar habis jadi abu, dan dari abu ini dia akan bangkit kembali menjadi burung baru yang lebih segar dan kuat daripada sebelum terbakar. Terkadang saya ketawa kalo inget ini, apa saya belum cukup kebakar sehingga belum bisa terlahir kembali dengan bentuk yang lebih baik? Atau emang saya sudah jadi abu dan memilih buat tetap jadi abu?

Ah iya Dua, kenapa judulnya dua? Soalnya saya masih belajar berhitung dan sekarang masih baru sampai hitungan ke dua. Sampai kapan mau ngitung? Ga tau, sampe capek kali ya. Bakal capek gitu? Entah, secara fisik sih ngitung doang ga capek. Dua itu sebelum tiga. Berarti kalo variabel hitungan ini saya increment sekali lagi, nilainya bakal jadi tiga. Sampai kapan mau meng – increment? Sampe bosan. Kapan bosan? Mungkin disaat udah ada alasan buat berhenti.

 

ah kalau untuk kasus aneh nan ganjil energi negatif aja masih yakin, banget…

 

kenapa juga saya masih terduduk menulis tulisan ini? Mungkin hanya saya dan Tuhan yang bisa jawab, tapi kenyataannya saya ga bisa jawab, jadi mungkin emang cuman Tuhan yang bisa jawab.

Kamu, orang yang bertanggung jawab atas lahirnya tulisan ini, entah bakal pernah tau atau enggak tentang keberadaan tulisan ini. Dan kalaupun kamu tau tulisan ini ada, emang kamu tau artinya apa? Ga perlu dipikirin juga, pastikan aja semuanya ga sia-sia, toh kita ga tau apa yang terjadi satu jam lagi, apa yang bakal terjadi besok lusa kan? Saya yakin kamu ga perlu jadi abu dulu buat bisa bersinar terang, kamu kan bukan phoenix.

Oke, cukup rasanya tulisan paling ngaco sepanjang sejarah saya nulis blog ini. Heran saya kalo ada yang masih baca sampe sini, apa yang dicari sih?

And all I can do is hope and pray, cause heaven knows….
~080312~

Takdir dan Algoritma Greedy

Pagi ini, saya bangun dari tidur lebih cepat dari biasanya, entah kenapa. Dan setelah gagal mencoba untuk tidur lagi, saya memilih untuk mengisi waktu dengan menumpahkan isi kepala ini.

Sebagai orang yang pernah mengenyam pendidikan di bidang Information Technology, ketika masih kuliah dulu saya pernah belajar tentang algoritma greedy. Apa itu algoritma greedy? Pada dasarnya algoritma ini ialah algoritma yang memecahkan persoalan dengan selalu memilih solusi yang optimum untuk tiap waktu, dengan harapan nantinya solusi tersebut dapat menjadi solusi optimum global.

Masih bingung? Coba lihat contoh di bawah ini

Ya, misalnya kita memulai perjalanan dari lingkaran bernilai 0, disini kita akan diminta mencari nilai maksimum yang mungkin didapatkan dari menelusuri “jaring-jaring” tersebut. Seperti yang telah dijelaskan di atas, algoritma greedy akan memilih solusi optimum tiap waktu tanpa memperhatikan pilihan-pilihan yang ada selanjutnya. Maka ketika kita mulai bergerak dan dihadapkan pada pilihan 1 dan 100, dengan algoritma greedy kita akan mengambil simpul yang memiliki nilai maksimum yaitu 100. Sekarang saat kita berada di simpul 100, kita kembali dihadapkan dengan pilihan antara 1 dan 1000, tentu saja kita kembali memilih nilai maksimum yaitu 1000. Oke, kita telah sampai di akhir perjalanan, berapa total yang kita dapatkan? 0+100+1000 = 1100. Hanya 1100, padahal dengan dilihat sepintas saja dari “jaring-jaring” di atas dapat diketahui bahwa nilai maksimum yang mungkin didapatkan adalah 0+1+7000 = 7001. Oke, disini yang ingin saya tunjukkan adalah dengan selalu memilih nilai optimum di setiap langkah, belum tentu kita akan mendapatkan hasil akhir yang paling optimum pula, karena kita gak tahu pilihan-pilihan apa yang akan terjadi setelahnya.

Saya senang bermain dengan analogi, dan saya rasa algoritma greedy ini sangat tepat untuk menggambarkan takdir menurut versi pemahaman saya. Bagi saya, hidup telah dituliskan dalam bentuk jaring-jaring yang memiliki kemungkinan tidak terbatas. Itulah apa yang telah disediakan Tuhan untuk kita, dan atas kuasa-Nya, kita manusia memiliki kebebasan untuk memilih simpul mana yang ingin kita tuju dalam setiap langkahnya. Tentunya tiap langkah akan memiliki konsekuensi yang berbeda pula.

Sebagai manusia, kita ga bisa melihat apa yang akan terjadi di masa mendatang. Kita cuma bisa memilih apa yang kita rasa terbaik untuk saat ini, dan berharap pilihan ini akan dapat memberikan hasil yang terbaik pula nantinya. Persis seperti cara kerja algoritma greedy. Nah, terkadang Tuhan mengarahkan kita pada simpul yang sama sekali bukan simpul yang optimum saat ini, namun mungkin dengan menempatkan kita pada simpul yang tidak optimum tersebut, Tuhan membimbing kita untuk dapat mendapatkan yang terbaik nantinya.

Pernah denger bahwa hidup itu hanya bisa dijalani dengan melihat ke depan dan hanya bisa dipahami dengan melihat ke belakang? Ya, sekali lagi saya mengambil contoh pada gambar tadi, kita baru bisa paham kenapa kita diarahkan pada simpul bernilai 1 ketika kita sudah mencapai simpul bernilai 7000. Disaat kita sedang berada di simpul bernilai 1, kita seringkali bertanya pada Tuhan, mengapa bukan simpul bernilai 100, hal ini wajar, mengingat manusia memang pada dasarnya bersifat selalu menginginkan yang terbaik. Tapi seringkali kita baru benar-benar bisa memahami bahwa yang terbaik saat ini, bukanlah yang terbaik dalam jangka panjang ketika kita sudah jauh sampai di tingkatan simpul-simpul selanjutnya. Bukankah Tuhan yang berkata bisa jadi kita menyukai sesuatu padahal itu buruk bagi kita, dan bisa jadi kita membenci sesuatu padahal itu baik bagi kita.

Karena kita yang ada hari ini merupakan hasil dari pilihan-pilihan kita di hari yang kemarin. Mungkinkah jika dulu kita mengambil pilihan yang berbeda, hari ini kita akan menjadi kita yang jauh berbeda dari saat ini? Mungkin, mungkin sekali. Tapi jangan lupa, bahwa mungkin jika dulu kita memilih pilihan yang lain, nasib kita mungkin ga bakal sebaik sekarang. Karena kita gak pernah tahu, simpul-simpul apa yang ada di balik simpul-simpul pilihan kita saat ini.

Minggu lalu, Tuhan dengan baiknya kembali mempelajari konsep takdir ini dengan cara-Nya. Cara yang cukup keras menurut saya. Tapi saya bersyukur masih diberi kesempatan untuk belajar banyak. Saat ini saya sedang berada di simpul nilai 1, dan seringkali masih bertanya, “mengapa bukan simpul nilai 100?”. Jawabannya mungkin belum bisa saya temukan sekarang, namun saya percaya, Tuhan sedang membimbing saya menemukan nilai optimum dari kehidupan. Postingan ini akan terus saya ingat, dan ketika nanti saya menemukan jawaban atas pertanyaan saya tersebut, saya berharap dapat lebih mensyukuri apa yang terjadi pada saya saat ini.

Karena Tuhan sesuai dengan prasangka hamba-Nya, biarkanlah kita selalu berprasangka baik, bahwa apa yang kita dapatkan, meskipun ga sesuai dengan keinginan, adalah yang terbaik untuk kita.

Someday we’ll know, if love can move a mountain..
Someday we’ll know, why the sky is blue..
Someday we’ll know, why I wasn’t meant for you..

Until the day our question be answered, until the day we can finally say “thanks God you didn’t give me what I want back there”, stay positive, keep on shining, keep on smiling, good luck and take care @amyasti, may the force be with you always 🙂

I Won’t Give Up

When I look into your eyes
It’s like watching the night sky
Or a beautiful sunrise
There’s so much they hold
And just like them old stars
I see that you’ve come so far
To be right where you are
How old is your soul?

I won’t give up on us
Even if the skies get rough
I’m giving you all my love
I’m still looking up

And when you’re needing your space
To do some navigating
I’ll be here patiently waiting
To see what you find

‘Cause even the stars they burn
Some even fall to the earth
We’ve got a lot to learn
God knows we’re worth it
No, I won’t give up

I don’t wanna be someone who walks away so easily
I’m here to stay and make the difference that I can make
Our differences they do a lot to teach us how to use
The tools and gifts we got yeah, we got a lot at stake
And in the end, you’re still my friend at least we did intend
For us to work we didn’t break, we didn’t burn
We had to learn how to bend without the world caving in
I had to learn what I’ve got, and what I’m not
And who I am

Dari pertama kali denger lagu Jason Mraz yang ini, udah ngerasa kalo lagu ini bagus. Liriknya keren, dan lagunya juga enak buat didengerin.

Pernah denger bahwa kalau lagi sedih rasanya semua lagu itu jadi “gw banget”? Mungkin karena efek itu ya, tiba-tiba sekarang lagu ini jadi kedengeran jauh lebih bagus dari sebelum-sebelumnya. Tapi bener, kalo ibaratnya hidup gw adalah sebuah film, saat ini lagu ini lah yang lagi jadi soundtracknya.Isinya bener-bener menggambarkan keadaan saat ini.

 Ya, saat ini, karena kita ga pernah tau apa yang terjadi besok, bahkan kita ga pernah tahu apa yang terjadi detik berikutnya dari sekarang. Saat ini, mungkin ini yang terbaik, tapi ada sesuatu dalam diri gw yang bilang bahwa ini hanya tahapan yang harus dilewati, saat nanti keadaannya udah beda, situasi lingkungannya udah beda, gw yakin pasti ada jalan. 

I don’t wanna be someone who walks away so easilyI’m here to stay and make the difference that I can make…

At least we did intend for us to work we didn’t break, we didn’t burn..

I’m still looking up, I’m still looking up…

I won’t give up on us….

Karena kita hanya bisa berusaha dan berdoa, maka biarkanlah kita tetap berusaha dan berdoa, dan biar Tuhan yang mengerjakan sisanya