Shi*t Happens, be Grateful!

Halo! Gak kerasa udah cukup lama dari terakhir kali saya menulis di blog ini. Campuran antara kemalasan, kesibukan, dan kebanyakan-ide-buat-nulis-sehingga-bingung-apa-yang-mau-ditulis membuat untuk kesekian kalinya saya gagal menepati janji untuk menulis secara teratur.

Anyway..

Jadi ceritanya hari Sabtu tanggal 27 Juli yang lalu ada acara buka bersama temen-temen yang dulu pernah bareng-bareng rapat sampe malem di kampus, janjiannya di Senayan City jam 4 sore. Jika acara ini diadakan sekitar 2-3 bulan yang lalu, saya kemungkinan besar akan memilih menggunakan KRL Commuter Line untuk menuju lokasi. Namun mengingat akhir-akhir ini tingkat keterlambatan dan kepadatan KRL meningkat secara eksponensial, saya memutuskan untuk mengendarai mobil kesayangan, Peugeot 307 China Blue, sebut saja namanya Kristina.

Rasanya tidak ada yang salah saat saya berangkat dari rumah, jalan yang saya pilih tepat sehingga saya dapat menuju pintu tol Bogor tanpa hambatan berarti. Semua berjalan seperti biasanya, sampai pada akhirnya saya memutuskan menepi di Rest Area KM 21 arah Jakarta untuk shalat ashar dan mengisi bahan bakar. Selepas keluar dari Rest Area tersebut, indikator suhu kendaraan menunjukkan peningkatan drastis, temperatur mesin yang biasanya bekerja di kisaran 80-90 derajat, naik menjadi sekitar 100 derajat. Meskipun terkejut, saya tetap harus mengambil keputusan, apakah akan berhenti, keluar dari pintu tol terdekat, atau lanjut. Mengaplikasikan logika sederhana, dimana panas akan turun jika terkena hembusan angin kencang, saya memutuskan menginjak pedal gas lebih dalam guna mendinginkan mesin. Voila! Tak lama kemudian “demam” Kristina berangsur-angsur membaik. Temperatur kembali ke kisaran 90-95 derajat. Saya mulai bernafas lega dan timbul di kepala semacam pikiran oh-mungkin-tadi-cuma-kebetulan-aja.

Namun, memang bener kata orang, ga ada asap kalo ga ada api. Selepas pintu tol dalam kota Jakarta, kemacetan terjadi, dan “demam” kristina melonjak tinggi. Bahkan saya sampai sekarang masih inget jelas rasa panik pas ngeliat jarum temperatur mesin mentok ke area panas yang bahkan saya gak tau itu suhu berapa. Alarm berbunyi, MID memperingatkan tentang temperatur mesin yang katanya sudah membahayakan. Tak ada pilihan lain, Kristina mengalami demam tinggi, overheat, saya harus segera menepikan kendaraan dan segera mematikan mesin.

Mobil sudah ditepikan dan mesin sudah dimatikan, now what? Karena berkaitan dengan suhu, tentu saja yang pertama kali saya lakukan adalah membuka kap mesin dan memeriksa radiator, yang saya yakin bahwa airnya masih penuh saat saya berangkat tadi. Yang terjadi sesuai dugaan, air meluap keluar karena pengaruh tekanan dan panas mesin. Oke, saya gak bisa apa-apa kalo gini caranya. Tindakan selanjutnya mencoba menelpon Peugeot Siaga, kebetulan nomernya ada di dekat kaca depan Kristina, yang terdengar hanyalah suara tut..tut..tut.. gak ada yang ngangkat. Baiklah, mari telpon orang tua ngabarin bencana yang terjadi dan sms temen-temen bilang saya gak bisa dateng.

Gak lama berselang, sebuah mobil patroli polisi jalan tol menepi di belakang mobil saya. Dengan ramah petugas tersebut menyapa dan menanyakan ada masalah apa. Setelah memberi penjelasan (dan meminta jaminan keamanan dari derek liar, maklum agak paranoid), petugas tersebut dengan ramah menawarkan untuk memanggilkan derek resmi jalan tol. Agak lega rasanya setelah mendapat bantuan dan jaminan bahwa kendaraan derek resmi sedang menuju lokasi.

Setibanya di lokasi, petugas derek resmi yang terdiri dari 2 orang ini menanyakan masalah kendaraan saya. Tentunya karena saya kira masalahnya di radiator, saya meminta air untuk kembali mengisi air radiator. Namun ternyata, setelah ditambah air pun masalah tidak berhenti, tampaknya masalah ada di extra fan dan bukan radiatornya. Gak ada jalan lain, mobil harus diderek, tapi… ke mana…? Petugas derek menawarkan untuk dibawa ke bengkel resmi dengan tambahan sejumlah biaya (FYI, derek resmi cuman sampe gerbang tol terdekat gratisnya), yang menurut saya sangat masuk akal dan tidak memeras, mengingat lokasi bengkel resmi ada di daerah Sunter, masih cukup jauh dari tempat kendaraan saya berhenti.

Pemandangan dari dalam Kristina yang lagi diderek

Pemandangan dari dalam Kristina yang lagi diderek

Sepanjang perjalanan, saya bercakap-cakap dengan petugas tersebut, percakapannya cukup menarik, mungkin nanti akan saya tulis di post lain hehe, terlalu panjang kalau ditambah disini. Singkat kata, mobil akhirnya tiba di Astra Peugeot Sunter, setelah didata oleh satpam dan mengambil tanda terima, saya pun meninggalkan Kristina di bengkel tersebut. Luar biasanya, kedua petugas derek tadi berbaik hati untuk mengantarkan saya sampai ke tempat dimana saya bisa menunggu bis untuk pulang ke Bogor. Well, walau batal ikut buka bersama, setidaknya saya bisa sampai ke Bogor dengan selamat.

Kalau dipikir-pikir, dibalik malapetaka tadi, saya masih harus banyak bersyukur atas banyak hal, Alhamdulillah saya memutuskan untuk lanjut dan gak puter balik di pintu keluar terdekat, soalnya kalau harus berhenti di luar tol, masalahnya akan lebih runyam. Alhamdulillah juga dipertemukan dengan petugas patroli dan petugas derek yang jujur dan baik hati, sehingga perasaan menjadi lebih tenang dan kantong juga gak kempes, gak kebayang deh kalo ketemunya ama derek liar. Alhamdulillah lagi kejadiannya di Jakarta, jadi mobil masih bisa dibawa ke bengkel resmi terdekat, coba kalo kejadiannya di Lintas Sumatra pas saya mudik ke Lampung, pasti lebih runyam masalahnya. Alhamdulillah waktu kejadian masih cukup terang, jadinya walau harus terpaksa berhenti, situasinya masih cukup aman. Dan masih banyak lagi hal yang bisa disyukuri dari kejadian di atas tadi, things could have been a lot worse anyway.

Selama ini saya gak pernah harus terhenti di tengah jalan karena masalah pada kendaraan, ternyata biar bagaimanapun kita udah berusaha mengantisipasi (servis rutin, cek sebelum berangkat, dll.), masih ada masalah yang bisa timbul tanpa diketahui. Yang paling penting, saya bersyukur bisa mengambil pelajaran dari kejadian ini, dan sekarang saya makin percaya bahwa masih banyak orang baik di luar sana. Dan satu hal lagi, akhirnya saya ngerasain naik mobil yang diderek :p

Terima kasih buat Pak Polisi, Bapak petugas derek 1, Bapak petugas derek 2, dan satpam bengkel yang semuanya saya lupa menanyakan namanya. Semoga Allah membalas kebaikan bapak-bapak semua.

In the end, I got some valuable lessons learned that makes me grateful🙂

4 thoughts on “Shi*t Happens, be Grateful!

  1. “ternyata biar bagaimanapun kita udah berusaha mengantisipasi (servis rutin, cek sebelum berangkat, dll.), masih ada masalah yang bisa timbul tanpa diketahui.”

    moral of the story: gak usah antisipasi?😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s