Review Film : Pacific Rim

Pacific Rim

Kenyang mata! Mungkin dua kata ini yang bisa menggambarkan perasaan saya setelah nonton film “Pacific Rim” versi IMAX 3D. Film ini merupakan film IMAX 3D ke-2 yang saya tonton, dan rasanya kali ini jauh lebih puas dibandingkan saat nonton “Prometheus” dulu.

Film ini bercerita tentang masa depan fiktif dimana makluk yang dinamakan Kaiju, yang sepertinya masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Godzila, bermunculan dari dalam lautan dan mengganggu kehidupan manusia di muka bumi. Untuk menjaga keberlangsungan kehidupan di muka bumi, manusia membuat senjata berupa robot yang tidak kalah besarnya yang di film ini disebut dengan Jaeger. Nah, Jaeger ini sendiri dipiloti oleh dua orang yang pikirannya saling terhubung melalui neural bridge, intinya saat pikiran kedua orang tersebut saling terhubung, mereka saling mengetahui pikiran dan perasaan satu sama lain, jadi sepertinya sih agak berbahaya kalo yang mengendarai Jaeger adalah pasangan suami istri yang salah satunya selingkuh. Jaeger ini juga dilengkapi dengan persenjataan yang beragam, mulai dari pedang, gergaji mesin, sampai Plasma Gun.

Secara garis besar, inti dari film ini sendiri hanya 3 kata, Jaeger, Kaiju, bertarung. Alur cerita dari film ini terkesan hanya menjadi pelengkap saja, plotnya ringan dan mudah ditebak. Mungkin inilah yang dimaksud oleh sang sutradara Guilermo del Toro saat menjelaskan bahwa Pacific Rim adalah film yang “incredibly airy and light feel”, memang film ini sangat berbeda dengan karyanya terdahulu “Pan’s Labyrinth”, yang alur ceritanya cukup kompleks. Tapi menariknya, justru karena alur yang ringan itulah saya merasa tidak perlu terlalu banyak berpikir sehingga mampu lebih menikmati adegan pertarungan robot raksasa melawan monster raksasa dengan special effect yang luar biasa. Kaum pria yang masa kecilnya akrab dengan mainan robot-robotan kemungkinan besar terpuaskan saat melihat adegan pertarungan di film ini, adegan pertarungan jarak dekatnya sangat dahsyat, pukul, lempar, tangkis, dan berbagai macam adegan pertarungan tersaji disini.

Rasanya tidak perlu lagi menjelaskan film ini secara panjang lebar, intinya film ini sangat layak untuk ditonton di teater berteknologi IMAX 3D. Datang, duduk, nikmati filmnya tanpa perlu banyak berpikir, tidak perlu juga banyak berkomentar tentang keanehan yang mungkin anda rasakan di beberapa adegan film ini, dan mungkin di akhir film anda akan memahami apa yang saya maksud dengan “Kenyang Mata”.

Sit back, relax, feel, do not think, and enjoy the movie!🙂

P.S: Jangan buru-buru keluar dari theater, ada sedikit adegan tambahan setelah ending credit😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s