Analogi Sepatu

Sudah sekian lama sejak terakhir kali saya menuliskan sesuatu di blog ini. Ya, ada alasan tersendiri kenapa saya malas nulis, karena menulis mengingatkan saya pada sesuatu, yang sebenernya indah untuk dikenang, tapi akan lebih baik kalau disimpan rapat-rapat🙂

Dari kalimat pembuka dan pemberian kategori ‘racauan’ pada tulisan ini, cukup jelas bahwa isi dari tulisan ini adalah tumpahan isi kepala dan hati yang sedang patah bergejolak. Jadi kalau sekiranya di hari kesehatan mental sedunia ini anda yang membaca tulisan ini (kalau ada) mengharapkan tulisan yang membuat tersenyum, stop, silahkan pilih bahan bacaan lain.. Hehe..

Sepatu

Anyway,
Tau sepatu? *pertanyaan macam apa ini*
Yup, sepatu yang saya maksud memang sepatu yang biasa kita gunakan untuk alas kaki. Bentuk dan warnanya macem-macem , bahannya juga macem-macem. Bahkan dari model sepatu yang sama pun ukurannya bisa beda-beda. Nah, dari berjuta model dan ukuran sepatu tersebut, tingkat kesukaan tiap orang juga beda-beda, mungkin sepatu X yang disenengin ama si A justru dianggep jelek ama si B.

Saya termasuk orang yang ribet kalo pilih sepatu. Pernah muter-muter keluar masuk toko sepatu berjam-jam dan akhirnya ga jadi beli karena ga nemu model yang pas. Sebaliknya, pernah juga maksain beli sepatu yang ukurannya ga pas, karena ngerasa modelnya bagus banget, ya ujung-ujungnya ga kepake sih akhirnya sepatunya.

Saya percaya, masing-masing dari kita punya kriteria tersendiri dalam memilih sepatu, saya misalnya selalu pilih sepatu yang ga ada tali-nya ini syarat mutlak saya dalam memilih sepatu, makannya suka susah kalo milih sepatu soalnya ga terlalu banyak pilihan model sepatu tanpa tali. Nah, karena relatif jarangnya keberadaan sepatu tanpa tali, pernah sekalinya nemu model sepatu yang oke banget, saya nekad beli, padahal ukurannya gak pas. Hasilnya? Jelas ga nyaman dipake.

Nah, berhubungan dengan cerita sepatu tadi, ada kalanya persoalan kehidupan ini mirip dengan kondisi memilih sepatu tadi. Terkadang kehidupan menghadapkan kita pada keadaan yang memenuhi apa yang kita cari selama ini, tetapi ada suatu hal yang emang ngebuat kita ga bisa memaksakan diri untuk tetap berada pada keadaan tersebut. Layaknya udah nemu sepatu yang modelnya oke, harganya pas, warnanya indah, tapi ukurannya gak pas. Memang, kalo ngikutin yang namanya emosi, pasti awalnya rasanya pengen banget tetep make sepatu tersebut, ‘ah cuman sempit sedikit kok’, ‘ah lama2 juga melar’, dan masih ada banyak alasan lainnya yang bisa menjustifikasi tindakan tersebut. Tapi kalo dipikir baik-baik, buat apa sih terlihat oke kalo ternyata emang ga enak, nyiksa malah, ujung-ujungnya bikin kaki lecet atau bahkan bisa bikin sepatunya jebol kalo dipaksain tetep dipake. Tapi tetep aja ada rasa ‘ga rela’ kan ngelepasin sepatu yang udah kita rasa paling oke dan memenuhi semua kriteria yang kita inginkan dari sebuah sepatu?

Hal seperti ini yang menuntut kedewasaan dan penggunaan akal sehat secara benar-benar sehat. Mungkin ya emang ga pas aja, mungkin emang waktunya yang salah, atau banyak mungkin-mungkin lainnya yang bisa terus menjadi pertanyaan. Yang perlu diyakini sekarang, saat ini emang ‘sepatu’ dan ‘kaki’ ini ga bisa dipaksakan untuk berjalan bersama. Entah di waktu yang akan datang. Mungkin si ‘kaki’ bakal nemu sepatu lain yang lebih cocok, mungkin si ‘sepatu’ bakal nemu kaki dengan ukuran yang pas buat mengenakannya, atau mungkin secara ajaib nanti ukuran ‘kaki’ ataupun ‘sepatu’ bisa jadi pas? Who knows, miracle do come true anyway🙂

Tapi buat sekarang, daripada bikin kaki lecet dan sepatu jebol *yang mana jadi zero sum game* , katakanlah emang harus diikhlaskan bahwa sepatu itu bukan buat saya. Berat sih, banget malah, tapi sesuai dengan kata-kata mutiara yang saya dapatkan di social media sebelah : “Melepaskan bukan berarti menyerah, tetapi lebih kepada memahami bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dipaksakan”, memang harus diikhlaskan demi kebaikan bersama, lagi-lagi saya dapat pelajaran hidup yang berharga🙂

Teringat potongan lirik lagu zaman masih muda dulu *sekarang juga belum tua sih* :

Ternyata kita sampai pada jalan yang berlainan arah,
Ternyata kita harus memilih,mana jalan yang terbaik tuk semua..

Semua yang terjadi ga akan sia-sia..
Semoga ini memang jalan yang terbaik untuk semua..
Saya percaya🙂

Ditulis di atas CommuterLine SUD-BOO, 101012 17:40, di tengah mendungnya langit Depok..

4 thoughts on “Analogi Sepatu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s