Jalan-jalan: Solo-Cepu. Bagian Pertama.

Sebenarnya saya sudah keduluan rekan saya Puja, yang menulis pengalaman jalan-jalannya ke Solo dan Cepu di sini beberapa waktu yang lalu (In fact tulisan ini udah basi sebenernya…). Tapi hei, ga ada salahnya menulis hal yang sama dari sudut pandang yang berbeda bukan? Seringkali ada hal-hal baru yang gak bisa terlihat cuman dari satu sudut pandang (ngeles…).

Oke, kisah ini dimulai dari ajakan @fajriahnur untuk menghadiri pernikahan rekan Informatika 2006, Ega Dioni, di Cepu. Setelah diskusi panjang lebar tinggi rendah, akhirnya gerombolan Informatika 2006 memutuskan untuk membuat dua titik awal keberangkatan, dari Jakarta dan dari Bandung. Sebagai insan informatika sejati yang banyak belajar tentang kondisi percabangan saat kuliah, tentunya memecah rombongan hanya menjadi dua saja kurang seru, maka dibagilah lagi Jakarta Jumat pagi (4 Mei 2012) dan Jakarta Jumat malam, serta Bandung Kamis malam (3 Mei 2012) dilengkapi Bandung Jumat malam. Kebetulan saya sendiri tergabung dalam rombongan Jakarta Jumat pagi bersama @fajriahnur dan @r_prana_a, kami berencana untuk berangkat menggunakan pesawat “Singa Udara” menuju solo, berangkat Jumat Pagi pukul 07.50 dari bandara Soekarno-Hatta. Sebagai catatan, rombongan Jakarta pagi adalah satu-satunya kelompok keberangkatan yang memilih jalur udara, tentunya menggunakan tiket promo, untuk mencapai tempat tujuan, rombongan lain memilih menggunakan jasa kereta api.

Tentunya sebagai teman yang baik, malam sebelum keberangkatan saya menghubungi @fajriahnur, yang ternyata masih kerja di kantor, untuk memastikan mengenai keberangkatan esok harinya. Akhirnya ditetapkan bahwa kami bertiga akan langsung bertemu di bandara pada Jumat pagi. Karena saya tinggal di Bogor, maka saya harus berangkat pagi-pagi sekali agar dapat mencapai bandara tepat waktu. Saya berangkat menggunakan Damri bandara dari Bogor pukul 04.45 WIB. Dengan tiket 35 ribu rupiah, saya mendapatkan transportasi menuju bandara yang menurut saya sangat nyaman, armada bis yang digunakan relatif baru, bersih, dan terawat. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 1,5 jam, saya tiba di bandara pukul 06.15. Tentunya saya langsung menghubungi kedua teman saya tadi, @r_prana_a sudah sampai di bandara, dan @fajriahnur baru berangkat dari rumahnya. Sambil menunggu @fajriahnur, saya memutuskan untuk berbincang dan melepas rindu dengan @r_prana_a di anjungan pengantar, mengingat kami sudah cukup lama tidak bertemu, maka banyak sekali cerita yang kami bicarakan, ditambah satu kejutan kecil, ternyata kami mengenakan sandal yang sama persis.

Sekitar pukul 06.45, @fajriahnur tiba, kami bertiga pun akhirnya bertemu. Saya dan @r_prana_a dengan perlengkapan liburan, dan @fajriahnur dengan perlengkapan perjalanan bisnisnya (ya, dia memang tidak berencana berlibur, hanya menghadiri nikahan teman sambil tetap bekerja). Sebagai orang yang sangat jarang naik pesawat, saya memutuskan untuk mengikuti saja kedua teman saya ini yang sudah terbiasa naik pesawat, singkat kata setelah check-in, digerayangi bapak-bapak petugas, melewati pemeriksaan, kami tiba di ruang tunggu. Tidak mengherankan, yang pertama kali dicari @fajriahnur di ruang tunggu ini adalah colokan listrik, untuk mencolok laptopnya dan mulai bekerja, kali ini dia kurang beruntung, colokan listrik di ruang tunggu sedang digunakan oleh tante-tante yang tampaknya sedang asyik bermain angry birds di handphonenya.

Sesampainya di pesawat, baru diketahui bahwa tempat duduk kami terpisah, saya di sebelah @fajriahnur, dan @r_prana_a ternyata lebih memilih untuk duduk di samping om-om di deretan lain. Jujur, sebagai penggemar acara Air Crash Investigation di televisi, saya agak takut saat harus bepergian dengan menggunakan pesawat terbang, namun rasa ketakutan itu agak mereda saat mulai membahas mengenai pramugari-pramugari dalam penerbangan ini, kesimpulannya adalah kali ini gak ada pramugari cantik yang menemani kami, satu-satunya yang agak oke, ternyata jauhgenic, dilihat dari dekat ternyata biasa saja. Berbincang dengan @fajriahnur, saya menemukan fakta mengejutkan bahwa ternyata kami, which of course refers to rombongan IF2006, akan bermalam di hotel, bukan menumpang di rumah seseorang seperti yang sebelumnya saya kira. Ternyata dibalik semua kesederhanaan dan kerja kerasnya, @fajriahnur memiliki status yang sama dengan sosialita Paris Hilton, yaitu cucu dari pemilik hotel. Kami akan bermalam di hotel yang dimiliki oleh keluarga @fajriahnur, hotel Gajah Mada, saya mulai curiga bahwa nama teman saya ini sebenarnya adalah Nur Gajah Mada.

Perjalanan dengan pesawat ini memakan waktu kira-kira 1 jam. Sekitar pukul 9 kami tiba di bandara Adi Sumarmo, Solo. Kemudian kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan taxi. Di taxi kami mendapat kabar bahwa @ivannugraha dan @restya_wa, yang merupakan rombongan Bandung Kamis malam, telah lebih dahulu tiba di hotel. Tentunya kami berinisiatif menghubungi mereka untuk mencegah hal-hal yang diinginkan terjadi, ternyata yang satu sedang tidur, dan yang satu sedang mandi (fakta ini, benar, benar, (mungkin) tidak berhubungan, sehingga jawaban yang dipilih adalah B, eh atau C? Saya sudah lupa..)

Singkat kata akhirnya kami tiba di penginapan Gajah Mada, penginapan kecil yang nyaman dan murah, cukup menyenangkan nampaknya untuk disinggahi apabila bermain ke Solo. Setibanya di sana, kami langsung menuju kamar masing-masing, @r_prana_a dan saya akan tidur sekamar dengan @ivannugraha, sedangkan @fajriahnur berada sekamar dengan @restya_wa. Setelah temu kangen beberapa saat, kami memutuskan untuk mulai mengkoordinasi keberangkatan ke Cepu esok hari. Setelah menghubungi dan mengkonfirmasi geng keberangkatan lainnya, didapatkan fakta bahwa rencana untuk menyewa 3 buah mobil sudah tidak sesuai lagi, karena rombongan Jakarta Jumat malam langsung menuju Cepu dan rombongan Bandung Jumat malam sebagian besar akan berangkat dari jogja bersama @azbyluthfan (cek cerita mereka di sini), kami memutuskan bahwa rombongan Solo cukup menyewa sebuah mobil saja.

Kiri-kanan @r_prana_a @fajriahnur @ivannugraha saya. Kamera(wo)men: @restya_wa

Setelah melakukan hal ini itu, tiga pria tampan yang tersesat di solo : saya, @r_prana_a, dan @ivannugraha memutuskan untuk berangkat menunaikan ibadah shalat Jumat, tadinya saya pikir cukup @ivannugraha saja yang pergi, dan kami berdua cukup titip absen, tapi @ivannugraha sebagai pria yang baik dan taat aturan menyarankan agar kami pergi bertiga saja. Sebelum kami berangkat, @fajriahnur berpesan agar kami membeli makanan bernama “Cabuk Rambak”, yang dapat dibeli di belakang masjid tempat kami menjalankan ibadah. Singkat kata, setelah melaksanakan shalat Jumat, kami segera menuju belakang masjid hanya untuk mendapatkan tukang kupat tahu berjejer di sana, sedikit pun tidak terlihat jejak penjual cabuk rambak tersebut. Dengan penuh keputusasaan, kami memutuskan untuk membeli saja 3 porsi kupat tahu dan membawanya kembali ke hotel. (beberapa waktu kemudian, baru diketahui sebenarnya si peminta makanan ini tidak mengetahui di mana letak penjual cabuk rambak, belakang masjid merupakan lokasi yang tidak definitif, masjid yang mana??). Resmilah kupat tahu (dengan rasa yang agak aneh ini) menjadi pembuka kuliner kami di Solo.

Kupat tahu

Tentunya perut dan mulut kami tidak terpuaskan hanya dengan kupat tahu. Kami memutuskan untuk berburu makanan yang lebih bonafide, setelah pertapaan selama beberapa menit, wangsit menunjukkan bahwa kami harus mencari makanan bernama…Tengkleng! Menurut legenda setempat, tengkleng yang enak terletak di Pasar Klewer. Sempat terjadi kebingungan dalam kelompok kami, untuk menentukan metode transportasi apa yang akan kami gunakan. Jumlah kami yang ber 2 + 3 cukup menyulitkan kami menemukan metode transportasi yang tepat. Untungnya, ternyata di Solo tersedia taksi minibus, sehingga kami ber 2+3 dapat berangkat dengan nyaman. Ongkosnya? Terkena pemakaian minimum 15 ribu rupiah saja sampai Pasar Klewer, cukup ekonomis, per orang hanya merogoh 3 ribu rupiah dari kantong.

Sesampainya di Pasar Klewer, kami langsung menyerbu penjual Tengkleng yang letaknya tidak jauh dari gapura pasar (oke, kami sempat nyasar dulu sedikit, guide kami yang sering ke Solo ternyata tidak banyak membantu dalam pencarian kali ini). Konon si Pakde dan Bude yang menjual tengkleng ini baru buka pukul 1 siang, namun karena sangat laris, maka kami yang datang pukul 2 siang menjadi pemesan terakhir di hari itu. Oh iya, bagi yang belum tau apa itu tengkleng, mungkin bisa mengecek di sini. Gimana rasanya? Nyamm… singkirkan dulu rasa takut terhadap lemak dan kolesterol, makanan ini lezat! Cuman, agak repot saat memakannya, butuh keahlian makan tanpa alat bantu agar dapat menikmati makanan ini dengan maksimal. Di akhir prosesi makan memakan, sialnya, baju saya terkena tumpahan kuah tengkleng saat hendak membuang sisa makanan tersebut.

Makanan bernama tengkleng

Setelah perut kami terisi, kami melanjutkan petualangan. Ternyata misi berikutnya adalah menemani ibu-ibu @restya_wa berbelanja, mencari batik untuk oleh-oleh orang tua -nya. Tiga orang pria yang tidak terbiasa bermanuver di lorong-lorong sempit Pasar Klewer, pada akhirnya memilih menyingkir menuju ruang ATM yang sejuknya bagaikan oase di tengah padang pasir. O iya, ternyata bahkan di Pasar Klewer sekalipun, batik yang bermotifkan logo klub sepak bola sedang menjadi tren.

Oke, segini dulu, tunggu sambungannya di “Jalan-jalan: Solo-Cepu. Bagian Kedua”😀

P. S :Makasih buat @restya_wa yang mengizinkan foto-fotonya di ambil untuk keperluan posting ini

5 thoughts on “Jalan-jalan: Solo-Cepu. Bagian Pertama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s