Takdir dan Algoritma Greedy

Pagi ini, saya bangun dari tidur lebih cepat dari biasanya, entah kenapa. Dan setelah gagal mencoba untuk tidur lagi, saya memilih untuk mengisi waktu dengan menumpahkan isi kepala ini.

Sebagai orang yang pernah mengenyam pendidikan di bidang Information Technology, ketika masih kuliah dulu saya pernah belajar tentang algoritma greedy. Apa itu algoritma greedy? Pada dasarnya algoritma ini ialah algoritma yang memecahkan persoalan dengan selalu memilih solusi yang optimum untuk tiap waktu, dengan harapan nantinya solusi tersebut dapat menjadi solusi optimum global.

Masih bingung? Coba lihat contoh di bawah ini

Ya, misalnya kita memulai perjalanan dari lingkaran bernilai 0, disini kita akan diminta mencari nilai maksimum yang mungkin didapatkan dari menelusuri “jaring-jaring” tersebut. Seperti yang telah dijelaskan di atas, algoritma greedy akan memilih solusi optimum tiap waktu tanpa memperhatikan pilihan-pilihan yang ada selanjutnya. Maka ketika kita mulai bergerak dan dihadapkan pada pilihan 1 dan 100, dengan algoritma greedy kita akan mengambil simpul yang memiliki nilai maksimum yaitu 100. Sekarang saat kita berada di simpul 100, kita kembali dihadapkan dengan pilihan antara 1 dan 1000, tentu saja kita kembali memilih nilai maksimum yaitu 1000. Oke, kita telah sampai di akhir perjalanan, berapa total yang kita dapatkan? 0+100+1000 = 1100. Hanya 1100, padahal dengan dilihat sepintas saja dari “jaring-jaring” di atas dapat diketahui bahwa nilai maksimum yang mungkin didapatkan adalah 0+1+7000 = 7001. Oke, disini yang ingin saya tunjukkan adalah dengan selalu memilih nilai optimum di setiap langkah, belum tentu kita akan mendapatkan hasil akhir yang paling optimum pula, karena kita gak tahu pilihan-pilihan apa yang akan terjadi setelahnya.

Saya senang bermain dengan analogi, dan saya rasa algoritma greedy ini sangat tepat untuk menggambarkan takdir menurut versi pemahaman saya. Bagi saya, hidup telah dituliskan dalam bentuk jaring-jaring yang memiliki kemungkinan tidak terbatas. Itulah apa yang telah disediakan Tuhan untuk kita, dan atas kuasa-Nya, kita manusia memiliki kebebasan untuk memilih simpul mana yang ingin kita tuju dalam setiap langkahnya. Tentunya tiap langkah akan memiliki konsekuensi yang berbeda pula.

Sebagai manusia, kita ga bisa melihat apa yang akan terjadi di masa mendatang. Kita cuma bisa memilih apa yang kita rasa terbaik untuk saat ini, dan berharap pilihan ini akan dapat memberikan hasil yang terbaik pula nantinya. Persis seperti cara kerja algoritma greedy. Nah, terkadang Tuhan mengarahkan kita pada simpul yang sama sekali bukan simpul yang optimum saat ini, namun mungkin dengan menempatkan kita pada simpul yang tidak optimum tersebut, Tuhan membimbing kita untuk dapat mendapatkan yang terbaik nantinya.

Pernah denger bahwa hidup itu hanya bisa dijalani dengan melihat ke depan dan hanya bisa dipahami dengan melihat ke belakang? Ya, sekali lagi saya mengambil contoh pada gambar tadi, kita baru bisa paham kenapa kita diarahkan pada simpul bernilai 1 ketika kita sudah mencapai simpul bernilai 7000. Disaat kita sedang berada di simpul bernilai 1, kita seringkali bertanya pada Tuhan, mengapa bukan simpul bernilai 100, hal ini wajar, mengingat manusia memang pada dasarnya bersifat selalu menginginkan yang terbaik. Tapi seringkali kita baru benar-benar bisa memahami bahwa yang terbaik saat ini, bukanlah yang terbaik dalam jangka panjang ketika kita sudah jauh sampai di tingkatan simpul-simpul selanjutnya. Bukankah Tuhan yang berkata bisa jadi kita menyukai sesuatu padahal itu buruk bagi kita, dan bisa jadi kita membenci sesuatu padahal itu baik bagi kita.

Karena kita yang ada hari ini merupakan hasil dari pilihan-pilihan kita di hari yang kemarin. Mungkinkah jika dulu kita mengambil pilihan yang berbeda, hari ini kita akan menjadi kita yang jauh berbeda dari saat ini? Mungkin, mungkin sekali. Tapi jangan lupa, bahwa mungkin jika dulu kita memilih pilihan yang lain, nasib kita mungkin ga bakal sebaik sekarang. Karena kita gak pernah tahu, simpul-simpul apa yang ada di balik simpul-simpul pilihan kita saat ini.

Minggu lalu, Tuhan dengan baiknya kembali mempelajari konsep takdir ini dengan cara-Nya. Cara yang cukup keras menurut saya. Tapi saya bersyukur masih diberi kesempatan untuk belajar banyak. Saat ini saya sedang berada di simpul nilai 1, dan seringkali masih bertanya, “mengapa bukan simpul nilai 100?”. Jawabannya mungkin belum bisa saya temukan sekarang, namun saya percaya, Tuhan sedang membimbing saya menemukan nilai optimum dari kehidupan. Postingan ini akan terus saya ingat, dan ketika nanti saya menemukan jawaban atas pertanyaan saya tersebut, saya berharap dapat lebih mensyukuri apa yang terjadi pada saya saat ini.

Karena Tuhan sesuai dengan prasangka hamba-Nya, biarkanlah kita selalu berprasangka baik, bahwa apa yang kita dapatkan, meskipun ga sesuai dengan keinginan, adalah yang terbaik untuk kita.

Someday we’ll know, if love can move a mountain..
Someday we’ll know, why the sky is blue..
Someday we’ll know, why I wasn’t meant for you..

Until the day our question be answered, until the day we can finally say “thanks God you didn’t give me what I want back there”, stay positive, keep on shining, keep on smiling, good luck and take care @amyasti, may the force be with you always🙂

3 thoughts on “Takdir dan Algoritma Greedy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s