Satu Derajat

Pagi hari, hujan, dan dilengkapi baru mengalami dua hari yang cukup menguras emosi memang saat yang paling tepat buat mulai menulis racauan-racauan dalam kepala.

Pernah belajar menggambar sudut? Dimana kita menarik dua buah garis yang bertemu pada suatu titik yang pada akhirnya membentuk sebuah sudut. Kalau sudutnya 90 derajat, akan muncul gambar siku-siku, dan kalau sudutnya 180 derajat, akan muncul garis lurus.

Nah, pernah gak merhatiin ketika kita lagi ngebuat sudut 1 derajat? Yup, sebuah sudut kecil yang pas baru mulai digambar, kedua garisnya tampak rapat. Coba deh tarik garis lebih panjang lagi, makin lama, akan makin jelas bahwa kedua garis tersebut gak bergerak menuju ujung yang sama, dan bahkan jarak antara kedua garis tersebut makin lama makin jauh.

Pernah gak punya masalah yang pada awalnya terlihat ga terlalu besar, dan tampaknya semua akan ada jalan keluarnya? Tapi seiring waktu berjalan, makin terlihat bahwa masalah itu makin ga ketemu titik temu ujungnya, dan apalagi kalau masalah ini menyangkut dua orang, mungkin secara gak sadar bergerak ke arah yang ga sama, dan semakin lama, semakin kerasa bahwa titik temunya itu semakin ga keliatan. Sama seperti sudut satu derajat, di awal mungkin ga signifikan, semakin lama, semakin ketahuan bahwa jarak yang dibuat sudut kecil tersebut makin signifikan.

Letak menyebalkannya adalah bukan karena jarak yang semakin lama semakin jauh, tapi karena sudut ini sendiri terbentuk karena faktor luar yang bener-bener hampir ga bisa diapa-apain lagi. Ya, satu derajat yang pada awalnya dengan sombongnya yakin bisa diatasi, makin lama makin membuat jarak makin jauh, karena kedua partikel pembentuk garis bergerak ke arah yang berbeda.

Kedua partikel yang tadinya benar2 yakin akan bekerja sama membentuk sebuah garis lurus bersama, ternyata akhirnya sadar bahwa mereka bergerak ke arah yang berbeda, satu derajat di awal memang memberi signifikansi besar seiring waktu berjalan. Hanya satu derajat.

Yang kita gak tau, bahwa apakah nanti akan ada faktor lain yang bisa membelokkan kedua partikel tersebut ke arah yang sama untuk kembali membuat sebuah garis lurus, dan mungkin nanti, tanpa adanya perbedaan sudut sedikit pun.

Tapi kalau mempertimbangkan posisi sekarang, memang lebih baik masing-masing partikel itu bergerak sesuai arahnya sendiri, membentuk garis dengan arah yang berbeda, karena perbedaan satu derajat, selama itu masih ada, ga akan bisa membuat garis menjadi lurus 180 derajat.

Yang gw tau, semua hal yang terjadi di dunia ini ga ada yang sia-sia, pasti ada hikmah dan pelajaran dibalik semuanya, termasuk masalah jarak satu derajat tadi. Tapi apa? Itulah jawaban yang harus gw cari

Maybe not now, maybe another time, another day, karena Tuhan selalu tahu apa yang terbaik bagi manusia, dan kapan waktu yang terbaik untuk memberi hal terbaik itu kepada hamba-Nya

Until the day we meet again
Until the day we walk the same path again
Will there be such a day?
Maybe no…
But it is never be a sin to dream for such a thing

Terimakasih buat pelajaran menarik garisnya, mungkin emang ada rencana lain dibalik kenapa garis ini ga bisa bergerak menuju suatu titik, tetaplah jadi partikel yang bergerak menuju suatu titik yang pasti, titik yang dinamakan manusia sebagai impian. Siapa tahu, kita akan bergerak menuju titik yang sama lagi suatu saat..

🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s