Rezeki dan Sepiring Kue

Saya bukan seseorang yang memiliki pemahaman mendalam tentang agama. Seringkali disaat hendak bertanya kepada orang yang lebih mengerti tentang agama ini, jawaban yang saya dapatkan cenderung berbelit-belit. Dari hal yang saya baca, lihat, dan dengar, seringkali saya membuat pemahaman sendiri tentang cara saya beragama, contohnya adalah saat saya membuat pemahaman tentang rezeki.

Sebelum masuk ke dalam pembahasan mengenai rezeki, coba kita pikirkan terlebih dahulu, pernah gak berbuat sesuatu dengan ikhlas? Yakin? Bener-bener ga berharap imbalan apa-apa? Bagi saya sendiri, saya tidak pernah berbuat sesuatu dengan ikhlas. Ketika saya berbuat baik, tentu saya mengharapkan balasan dari Tuhan entah apapun itu bentuknya. Nah, Rezeki adalah salah satu balasan yang saya harapkan dari perbuatan baik tersebut. Teringat postingan sebelumnya, rezeki itu ga selalu dalam bentuk harta, dan itulah yang sering kita lewatkan, banyak kemudahan yang sudah kita dapatkan namun jika rezeki datang tidak dalam bentuk harta, seringkali kita tidak menyadarinya. Oh ya, jadi kesimpulannya definisi ikhlas menurut saya adalah hanya berharap balasan dari yang Mahakuasa.

Sering gak merasa bingung tentang konsep rezeki? (well, saya juga masih suka bingung kok) Biar lebih mudah memahaminya, yuk sekarang kita analogikan bahwa rezeki itu adalah sepiring kue🙂

“Rezeki akan diberikan kepada siapa yang pantas menerimanya”

Jadi gini, ibaratnya kita meminta sebuah kue tart besar, namun yang kita siapkan untuk menampungnya hanyalah sebuah piring kecil, yang mungkin hanya muat untuk menampung sepotong kue kecil. Dengan persiapan hanya piring kecil, mungkinkah kita berharap dapat kue yang besar? Yup, poin yang ingin saya sampaikan disini, ketika kita meminta suatu rezeki, pastikan diri kita sudah pantas untuk menerimanya. Saat kita minta diluluskan dalam ujian, tentu kita harus belajar dengan baik terlebih dahulu, kita siapkan terlebih dahulu piring yang besar, barulah kemudian kita akan menerima kue yang besar.

“Bersyukurlah, maka rezekimu akan ditambah”

Coba bayangkan, ketika kita diberi kue, namun kita tidak terlihat senang saat menerimanya dan bahkan tidak kita habiskan. Apakah yang memberi kue tersebut akan senang? Kemungkinan besar tidak. Tapi coba ketika kita diberi kue dan kita menghabiskannya dengan lahap, kemungkinan besar yang memberi kue tersebut akan senang melihatnya dan juga akan berkata “Wah? Suka ya? Mau tambah?”. Begitupun rezeki, ketika kita mampu mensyukuri hal-hal yang diberikan kepada kita, selain hidup akan bahagia, maka rezeki kita akan bertambah. Ini janji Tuhan lho, dan saya percaya.

“Apa yang diminta berbeda dengan apa yang didapatkan”

Kita minta kue keju, tapi dikasih kue coklat. Nah, sebel kan pasti? Tapi mungkin kita gak tahu, bahwa kue keju yang kita inginkan itu udah basi, dan kue coklat ini, meskipun awalnya kita ga pengen, ternyata fresh from the oven dan rasanya enak banget, bahkan mungkin lebih enak dari kue keju yang kita pengen. Kalau di awal kita udah antipati ama kue coklat dan malah marah-marah karena ga dikasih kue keju, tentunya kita ga akan bisa merasakan nikmatnya kue coklat kan. Untuk hal ini, kuncinya adalah berpikir positif, yang dikasih itu pasti yang terbaik buat kita, mungkin kita ga bisa ngeliat baiknya dimana sekarang, tapi nanti suatu saat pasti kita akan bisa melihat apa sih hikmah dibalik semuanya. Dan bukankah ada hal-hal yang kita sukai ternyata tidak baik buat diri kita sedangkan mungkin hal-hal yang tidak kita sukai itu justru baik bagi diri kita?

“Ada hak orang lain dalam rezeki kita yang berbentuk harta”

Oke, belok dikit ngebahas sedekah ya. Pernah denger bahwa dalam harta yang kita miliki, sebagiannya terdapat hak-hak fakir miskin yang dititipkan pada kita, dan tentunya kita wajib mengeluarkannya. Tapi, apakah kita sudah cukup berbuat baik dengan “hanya” mengeluarkan harta yang bahkan sebenarnya bukan hak kita? Misalkan kita berzakat rutin 2,5% per bulan, bukankah itu kita hanya memberikan apa yang bukan hak kita?

Yuk kembali ke analogi kue. Misal ibu kita memberikan 5 potong kue, dengan pesan 1 kue tersebut adalah milik adik kita. Ketika kita memberikan sepotong kue tersebut kepada adik kita, memang kita sudah berbuat baik dengan menyampaikan amanat dari ibu, tapi toh itu memang milik adik kita dari awal kan? Ketika yang kita berikan adalah 2 potong kue, atau bahkan lebih, barulah menurut saya itu bisa disebut memberi, ya, kita memberikan apa yang sebenarnya hak milik kita sendiri.

Nah balik lagi ke masalah zakat, yuk bagi yang memiliki harta yang lebih, kita sedekahkan harta kita, bukan cuma mengeluarkan apa yang menjadi hak bagi orang lain🙂

Ngaco? Saya terbuka kok untuk dikritik mengenai pemahaman saya ini. Toh saya juga masih belajar, tapi bagi saya, analogi kue untuk rezeki ini memberikan saya pemahaman yang lebih mudah terhadap konsep rezeki. Semoga saya gak omdo ya dalam menulis tulisan ini, semoga saya tetap dapat mengamalkan dengan konsisten apa yang saya tulis ini..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s