Rezeki…?

Semua dimulai dari sesi chatting sore tidak beraturan yang secara tiba-tiba berubah menjadi percakapan serius dengan topik sedekah, setelah membicarakan beberapa hal, si teman mendadak menuliskan hal berikut:

 

“Mungkin karena konteks rezeki lo harta?”

 

Deg! Dan sayapun tersentak. Ya benar, selama ini hal pertama yang terbersit di kepala saya saat mendengar kata rezeki adalah hal-hal yang berkaitan dengan uang. Mungkin pola pikir inilah yang terkadang membuat saya mempertanyakan tentang keadilan rezeki kepada yang Mahakuasa. Padahal, jika direnungkan lebih dalam, begitu banyak hal-hal di luar uang yang telah dianugrahkan kepada diri saya sepanjang hidup.

Selama saya hidup, saya selalu berada dalam lingkungan yang berkecukupan. Tidak berlebih memang, tapi tidak pernah kekurangan juga. Segala kebutuhan mendasar dan beberapa kebutuhan ekstra saya selalu dapat terpenuhi. Namun, adalah sifat dasar manusia yang selalu merasa tidak pernah puas yang membuat saya seringkali merasa tidak berkecukupan. Sebenarnya rasa tidak pernah puas itu bagus, apabila konteksnya adalah tidak pernah puas dalam mencari ilmu pengetahuan, maupun tidak pernah puas dalam beribadah. Namun yang saya rasakan disini adalah rasa tidak pernah puas yang negatif, tidak pernah puas akan harta. Ambil contoh, ketika kecil, keluarga saya tidak memiliki kendaraan bermotor, saat itu saya merasa akan gembira sekali apabila keluarga saya memiliki mobil. Setelah keluarga saya memiliki sebuah mobil, pikiran berubah, alih-alih bersyukur sekarang saya menginginkan mobil yang lebih bagus, dan begitu seterusnya.

Ya, manusia memang sulit merasa terpuaskan, makannya menurut ayah saya mau berapapun besarnya penghasilan seseorang, tidak akan pernah cukup kalau dirinya tidak pernah mau merasa tercukupi. Dari sini saya berfikir, bahwa kunci kebahagiaan manusia ialah kemampuan dirinya untuk bersyukur. Dengan bersyukur, manusia akan dapat merasa tercukupi meskipun tanpa memiliki banyak harta. Dan untuk bersyukur, terkadang terlebih dahulu kita harus dapat melihat hal-hal yang kita miliki, yang seringkali kita abaikan, namun terkadang hanya menjadi impian bagi orang lain.

Banyak nikmat yang saya miliki yang selama ini tidak terasa sebagai kenikmatan, namun jika direnungkan, hal-hal ini adalah kenikmatan yang tidak semua orang bisa mendapatkannya. Saya memiliki orang tua yang luar biasa, keluarga yang harmonis, kesehatan (yang mungkin baru terasa sebagai nikmat dikala kita sedang sakit) dan mampu makan tiga kali sehari. Itu hanya sebagian rezeki yang dapat saya sebutkan di sini, dan memang kita tidak akan mampu menuliskan seluruh nikmat yang diberikan kepada kita oleh Tuhan bukan?🙂

Mengenai uang, yang mungkin bukan hanya saya saja yang terkadang merasa hal ini menjadi akar dari kebahagiaan. Tuhan yang Mahakaya punya kebijaksanaan-Nya tersendiri terhadap ciptaannya, mungkin apabila saya diberi harta yang berlebih dengan kondisi keimanan hamba-Nya yang belum kuat justru akan menjadikannya orang yang kufur terhadap nikmat dan malah bermalas-malasan beribadah. Mungkin dengan ditahannya rezeki berupa harta oleh Tuhan ini karena Tuhan sayang, dan ingin hamba-Nya lebih mendekatkan diri pada-Nya sebelum Dia memberi limpahan kekayaan pada hamba tersebut. Tuhan Mahatahu, tahu kapan saat yang tepat untuk memberikan limpahan nikmat dan rezeki pada hamba-Nya. Dan bukankah Tuhan juga Mahabaik? Tidak mungkin Tuhan menyuruh hamba-Nya untuk membahagiakan orang tua, menikah, dan bersedekah tanpa memberikan harta yang cukup bagi hamba-Nya.

Mungkin chatting sore yang sepintas tidak penting tadi adalah cara Tuhan menegur saya, membuat saya merenung dan mensyukuri hal-hal yang selama ini tidak saya syukuri. Bahwa sesungguhnya telah banyak rezeki yang diberikan kepada saya, dan betapa tidak bersyukurnya saya apabila hanya mengukur rezeki dari harta semata. Bukankah Tuhan telah berjanji bahwa jika kita bersyukur, malah justru nikmat kita akan ditambah?

Asumsi saya, anda yang membaca tulisan ini berarti memiliki akses terhadap komputer, entah itu komputer desktop, laptop, tablet, atau bahkan handphone. Bahkan sayapun menulis postingan ini lewat laptop yang terhubung dengan wireless internet di rumah. Coba deh dipikir, berapa orang yang ga diberikan rezeki untuk menikmati laptop, internet, dan bahkan waktu senggang untuk sekedar menulis maupun membaca blog? Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?🙂

Note: Tulisan ini ditulis oleh seseorang yang ga memiliki pengetahuan mendalam terhadap ilmu agama, mohon koreksinya jika sekiranya ada yang menyimpang😀

4 thoughts on “Rezeki…?

  1. Pingback: Rezeki dan Sepiring Kue « adipsujarwadi's
  2. aku suka awal penulisannya,. tapi di akhir lebih k curhat??,. bagaimana seharusnya secara pikira rasionalnya untuk menghadapi sifat yg selalu memandang ke harta itu??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s