Saya Tahu Itu Salah, Tapii…

Ya, judul tulisan ini menggambarkan tentang apa tulisan yang saya buat kali ini. Saya cukup yakin, semua orang pernah berpikir seperti itu. Tahu, bahwa apa yang dilakukan itu sebenarnya salah, tapi selalu saja ada alasan untuk melakukan hal tersbut. Bahkan mungkin, melakukan hal yang salah tersebut sudah menjadi suatu kesenangan tersendiri.

Saya mulai dari diri saya sendiri, saya sering mengendarai mobil. Dalam hal berkendara, dapat dikatakan saya termasuk orang yang cukup menaati peraturan lalu lintas. Tapi ada peraturan lalu lintas yang rasanya kok kalau tidak dilanggar ada yang kurang. Ya, saya tahu bahwa kecepatan maksimal di jalan tol adalah 100 Km/jam dan mendahului dari sisi kiri itu tidak dibenarkan. Tapi kok rasa-rasanya kalau mentaati kedua peraturan tersebut ujung-ujungnya bakal lebih lama sampai di tujuan ya. Saya tahu itu melanggar, ah tapi banyak kok yang berbuat seperti saya, banyak yang lebih rusuh dari saya malahan, berjalan lebih kencang dengan pola pergerakan lebih zig zag. Bahkan perlu saya akui, ada sensasi tersendiri ketika menekan pedal gas dalam-dalam, mendengar raungan mesin, dan melibas pengendara lain, apalagi melewati celah yang sempit, sensasinya luar biasa, dan bikin ketagihan. Saya tahu, bahwa selain melanggar peraturan, memacu mobil dengan kecepatan tinggi itu membahayakan diri sendiri dan orang lain, ah tapi selama ini ga pernah kenapa-kenapa kok asal hati2 aja nyetirnya. Dan seterusnya…

Ya, selalu saja ada alasan untuk membenarkan hal-hal salah yang kita lakukan. Meskipun saya rasa, mau sehebat apapun alasannya, hal-hal yang salah tidak akan beurubah menjadi hal yang benar. Paling yang ada, kita jadi merasa lebih benar dalam melakukan hal-hal tadi. Akan jadi berbahaya jika dengan melakukan pembenaran ini justru kita semakin berani melakukan hal-hal salah yang lebih besar

Dari pengamatan saya yang sepintas-sepintas saja, ditambah dengan ke sok-tahuan saya, saya dengan seenaknya merumuskan tentang hal-hal apa saja sih yang biasanya membuat saya merasa punya alasan untuk melakukan hal-hal yang salah.

  • Orang lain juga gitu kok

Yap, ini adalah salah satu hal yang saya anggap paling banyak mendasari tindakan pembenaran yang saya lakukan. Saat ini, pola pikir kebanyakan orang (termasuk saya) tampaknya masih terpaku pada “banyak berarti benar”. Contoh simpelnya, saya tahu sih kalau turun angkot di sini itu bakal bikin macet, ah tapi biasa lah, banyak juga yang turun disini, jadi gak apa apa lah yaa.

  • Bukan salah saya, ini hak saya, mereka yang salah

Ini adalah pembenaran yang luar biasa, menyalahkan orang lain atas kesalahan yang dilakukan diri sendiri, bahkan terkadang membuat bias fakta tentang siapa yang sebenarnya benar dan siapa yang salah. Contohnya, saya tahu sih kalau mendahului dari sebelah kiri tuh salah, tapi mau gimana, di jalur kanan isinya mobil yang jalannya cuman 60 km/jam. Nah lho, kalo udah gini bingung kan siapa yang salah?

  • Kalo saya nggak, nanti saya dirugikan dong…

Alasan berikutnya adalah alasan pembelaan diri. Intinya adalah, kesalahan ini sudah lazim dilakukan orang banyak, sehingga kalau ga dilakukan, pasti orang lain tetep ngelakuin dan bahkan berpotensi merugikan kita. Contohnya, saya tahu sih nungguin kereta di depan garis batas aman itu bahaya, tapi kalo ga nunggu disitu, bakal diserobot orang lain dan kemungkinan besar malah susah masuk ke dalam kereta.

Saya yakin deh, masih banyak alasan2 lain yang ga tercakup dalam kategori-kategori di atas. Tapi yang mendasari saya membuat tulisan ini sih sebenernya sih pertanyaan simpel yang terkadang muncul di kepala

Apakah suatu hal yang salah, jika didukung dengan alasan yang benar dapat menjadi hal yang benar?

Yah, tulisan ini memang bukan buat menjawab pertanyaan di atas, cuman buat sekedar bahan renungan aja. Dan lagi, saya sih suka ngerasa ketika saya berbuat salah, saya pasti mencari-cari alasan yang terdengar baik untuk membuat tindakan saya tidak terlihat salah. Dari sini, udah jelas, niat awalnya emang bukan mau berbuat baik lalu terpaksa pakai cara yang salah, tapi lebih ke, “ah saya salah nih, eh tapi gamau salah ah”. Dan yang perlu diingat adalah perbuatan kita dinilai dari niatnya.

Terlepas dari belum terjawabnya pertanyaan tadi, semoga ke depannya saya, dan mungkin anda yang membaca tulisan ini, dapat lebih bijaksana dalam melakukan tindakan apapun. Karena saya selalu percaya, hal baik seharusnya dilakukan dengan cara yang baik pula 🙂

2 thoughts on “Saya Tahu Itu Salah, Tapii…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s