Zomato: Restaurant Finding App That Works (For me)

Saya masih ingat rasa skeptis saat pertama kali seorang rekan memberitahu saya tentang aplikasi Zomato. “Ah, paling sama kayak aplikasi restaurant finder lainnya, ga kepake juga ujung-ujungnya”, kira-kira kalimat tersebut yang terngiang di benak saya. Rasa skeptis yang muncul bukanlah tanpa alasan, sudah beberapa kali saya menggunakan aplikasi sejenis di Android, namun saya tidak merasa ada satu pun yang memenuhi kriteria “layak digunakan” yang saya miliki. Bukan berarti aplikasi sejenis lain itu buruk, tidak juga, bahkan beberapa dibuat dengan cukup baik.

Namun pada akhirnya setelah mendapatkan informasi bahwa Zomato merupakan aplikasi yang telah berkembang besar di luar sana, bahkan telah mendapatkan investasi yang cukup besar, rasa penasaran saya mengalahkan rasa skeptis yang muncul. Dan sayapun memutuskan untuk mendownload aplikasi ini dari Google Play Store.

Saat pertama kali saya membuka aplikasi ini,  saya sadar bahwa semua pemikiran saya mengenai “this is just another restaurant finding app” salah besar. Zomato berbeda, benar-benar berbeda. Dan sejak hari itu Zomato menjadi salah satu aplikasi yang selalu terinstall di HP saya.

Beberapa hari yang lalu, saya melihat iklan di facebook, bawa Zomato sedang membuka kesempatan bagi para penggunanya untuk medapatkan iphone dan kaus gratis  memberi masukan terhadap aplikasi ini. Sebagai seorang yang sehari-harinya berkutat dengan “Product Development” saya cukup tertarik untuk memberikan sudut pandang saya terhadap aplikasi ini, yah sekalian menajamkan kemampuan analisis terhadap suatu produk aplikasi.

Oke, mari kita mulai dari apa yang saya sukai dari aplikasi ini:

  1. Data Resto yang lengkap
    Inilah fitur utama Zomato yang membuat aplikasi ini berbeda dari aplikasi sejenis. Data yang disajikan sangat sangat lengkap. Bahkan membuat saya terkagum-kagum, bayangkan saja selain menyediakan data tentang Nama Restoran, Lokasi, dan Nomer Telefon, Zomato menyediakan informasi mengenai Menu dan Harga! Ya, informasi yang disajikan dalam bentuk foto ini merupakan hal yang sangat berharga bagi saya sebelum memutuskan untuk menuju suatu restoran. Saya bisa melihat menu apa yang tersesdia, dan budget yang perlu disediakan.  Harganya akurat, sudah bebrapa kali saya menggunakan aplikasi ini dan mencocokkan harganya dengan harga sebenarnya, dan hasilnya PERSIS SAMA.

    Data Restoran

    Data restoran yang lengkap

    Menurut saya, sebuah aplikasi yang mengandalkan konten tidak akan bermanfaat tanpa konten yang lengkap dan informatif. Mau aplikasinya sangat bagus sekalipun, jika informasi yang disediakan ala kadarnya tidak akan membuat pengguna betah berlama-lama menggunakannya. Menurut saya pribadi, Zomato memiliki kedua faktor tersebut dalam aplikasinya, konten yang sangat lengkap serta aplikasi yang bagus dan mudah digunakan. Hal ini yang membuat saya sangat menyukai menggunakan aplikasi ini saat sedang ingin makan di luar namun bingung mau makan di mana.

    Menu dan harga yang sesuai kenyataan

    Menu dan harga yang sesuai kenyataan

    Informasi menu dan harga yang lengkap ini menjadi salah satu “killer factor” yang dimiliki Zomato, foto menu dan harga yang disertakan sangat memudahkan saya dalam mengambil keputusan untuk menentukan tempat makan. Satu hal lagi, database nya sangat lengkap mulai dari restoran besar, hingga makanan-makanan pinggir jalan. Salut untuk hal ini!

  2. Fitur Nearby Restaurant
    Seringkali saya mengalami kebingungan mencari tempat makan saat sedang berada di suatu wilayah yang tidak terlalu saya kenal. Zomato memudahkan saya dalam menemukan tempat makan dengan cara menyajikan informasi mengenai tempat makan terdekat dari lokasi saya berada. Fitur ini, dikombinasikan dengan data yang lengkap, semakin membuat saya merasa aplikasi ini sangat bermanfaat.

    Pencarian restoran terdekat

    Pencarian restoran terdekat

Filter
Rasanya tidak lengkap jika fitur pencarian tidak dilengkapi dengan Filter. Zomato memberikan kemudahan penggunanya untuk mempersempit pencarian restoran. Pencarian dapat dipersempit berdasarkan range harga, tipe restoran (cafe, delivery, tempat makan), bahkan dapat difilter sesuai jenis makanan (ex. Bakso, Arab, Padang, dll). Hal ini tentunya sangat bermanfaat mengingat data restoran yang dimiliki Zomato sangat berl

Pencarian dipermudah dengan filter

Pencarian dipermudah dengan filter

Aplikasi ini apa adanya menurut saya sudah dapat memenuhi kebutuhan saya akan aplikasi Restaurant Finder. Namun, sebagai manusia yang tidak pernah puas tentunya ada beberapa hal yang ingin saya sarankan agar aplikasi ini dapat menjadi lebih baik lagi (menurut saya):

  1. Rekomendasi
    Zomato memiliki fitur review pengguna, kita dapat memfollow pengguna lain dan melihat review dan rekomendasi dari pengguna tersebut, saya menyebut fitur ini rekomendasi sosial. Adapun yang menurut saya akan menarik ditambahkan  adalah rekomendasi mesin, seperti apa yang dimiliki oleh Amazon maupun Google Play.

    Fitur rekomendasi google play

    Fitur rekomendasi google play

    Rekomendasi tersebut dapat berupa:

    • Orang yang pernah makan disini juga makan di:… (Covisitation)
      Rekomendasi ini didasarkan pada fitur “Been Here” dan “Rating” yang terdapat di halaman profil restoran. Zomato dapat mengumpulkan data kunjungan restoran dari orang-orang yang pernah mengunjungi restoran tertentu, karena biasanya orang yang menyukai suatu jenis makanan akan tertarik juga untuk mencoba makanan yang disukai orang yang memiliki selera yang sama. Semisal di halaman profile “Mie Bakso Mang Udjo” akan muncul rekomendasi seperti “Mie Ayam Super”. Rekomendasi ini sejenis dengan fitur “User Also Installed” pada Google Play.
    • Berdasarkan kesukaan pengguna (User Profile)
      Zomato tentunya memiliki profil tiap pengguna, restoran mana saja yang sudah dikunjungi, restoran mana saja yang disukai, maupun restoran mana saja yang sudah masuk “Wishlist”. Dari data tersbut tentunya Zomato dapat memprosesnya untuk memberikan rekomendasi kepada user restoran mana yang belum pernah dikunjungi dan kemungkinan disukai oleh user tersebut.
    • Restoran lain dari kategori yang sama
      Rekomendasi jenis ini mungkin merupakan rekomendasi yang paling simpel, cukup tampilkan restoran dari kategori sejenis yang belum pernah dikunjungi user. Rekomendasi ini sejenis dengan fitur “Similar Apps” pada Google Play
  2. Promo
    Terkadang, orang pergi ke suatu restoran karena tertarik dengan promo restoran tersebut. Entah promo diskon, promo kartu kredit, maupun jenis promosi lainnya. Akan sangat menyenangkan apabila Zomato juga dapat memberikan informasi mengenai restoran yang sedang mengadakan event promosi. Dengan demikian, user akan senang karena dapat membeli makanan dengan harga yang lebih murah, restoran juga akan senang karena semakin banyak pelanggan yang datang.
  3. Perbandingan Restoran
    Fitur ini saya rasa cukup menarik,  dimana user dapat menempatkan dua atau lebih restoran secara side-by-side untuk menentukan pilihan restoran mana yang terbaik. Fitur ini sudah banyak diimplementasikan pada situs gadget seperti Gsmarena, namun rasanya akan sangat menarik apabila diimplementasikan pada “Restaurant Finder”. Misal: User dapat membandingkan antara Restoran Padang A dan Restoran Padang B, mulai dari menu, harga, dan ulasan pengguna.
  4. Metode Login
    Satu lagi boleh ya? Saat ini saya melihat Zomato hanya mengintegrasikan login dengan menggunakan Facebook. Namun menurut saya, akan lebih seru apabils user juga dapat login menggunakan social media lain seperti Twitter, Path, maupun Google+,. Dan hey, tentunya semakin banyak teman yang bergabung akan semakin seru bukan?

Saya rasa sudah cukup ulasan dari saya, masih ragu? Silahkan langsung cek di Situs Resminya

Terakhir, terimakasih kepada developer yang telah menciptakan aplikasi yang memudahkan saya mencari tempat makan,  keep on rocking guys!

Terjebak Nostalgia

Bukan, tulisan ini bukan ngebahas tentang percintaan, bukan juga ngebahas tentang lagu galau yang cukup nge-trend jadi kalo lagi pengen membaca tentang percintaan atau lagu galau, move along, nothing to see here..

Terjebak Nostalgia

Tulisan ini berawal dari obrolan iseng kesana kemari tanpa arah yang saya lakukan dengan teman saya kemarin malam saat terjebak hujan.

C: “Buat gw sih masa-masa paling enak tuh masa-masa kuliah”

A: “Hmm, iya sih enakan jaman kuliah dulu daripada sekarang..”

Salah satu kebiasaan buruk saya adalah tenggelam dalam kenangan masa lalu, selalu membanding-bandingkan keadaan sekarang dengan keadaan dulu. Kebiasan ini seperti pisau dengan dua sisi tajam, di satu sisi terkadang membuat saya bisa bersyukur dengan hal-hal yang saat ini lebih baik dibandingkan masa lalu, namun di sisi lain terkadang malah membuat gak bersyukur dengan keadaan yang ada dan ingin rasanya kembali mengalami kehidupan di masa lalu. Kalo bahsa keren-nya sih, susah move on.

Waktu SD terkadang berpikir, enak ya waktu TK sekolahnya cuman main-main aja gak ada PR.

Waktu SMP juga masih suka berpikir, waktu SD enak ya pelajarannya ga rumit, sekolahnya sebentar, PR nya juga gak banyak.

Waktu SMA kembali berpikir, ah enak dulu waktu SMP, pelajarannya gak ribet, masih lebih banyak waktu main, gak pusing mikirin mau kuliah kemana.

Waktu kuliah juga, hmm, rasanya enak waktu SMA, masih tinggal deket rumah, bisa sering ketemu orang tua.

Celakanya sekarang ini juga saya merasa masa kuliah lebih enak daripada kerja karena satu dan lain hal.

Mungkin kebiasaan ini dipengaruhi oleh sisi melankolis saya yang sangat dominan. Seringkali tiba-tiba terbayang keadaan di masa lalu dimana terdapat beberapa kemiripan dengan masa sekarang. Misalnya saat saya menulis tulisan ini, jam 3 sore dan di luar hujan deras, tiba-tiba teringat masa kelas 1 SMA dimana saya dan teman saya pernah terlambat kembali ke kelas setelah istirahat karena terjebak hujan selepas shalat di masjid. Gak penting? Yup, tapi terkadang akumulasi hal-hal gak penting itulah yang membuat saya kangen dengan keadaan di masa lalu.

Yang perlu disadari, mungkin pas kita ngalamin suatu kejadian di masa lalu tersebut, rasanya gak indah sama sekali. Apa coba yang indah dari terjebak hujan di masjid? Gak ada kan? Yang ada kesel malahan ga bisa balik lagi ke kelas. Tapi entah kenapa kalo diinget-inget sekarang, rasanya pengen deh kembali ke masa-masa tersebut. Jadi, harusnya sih sekarang mulai ngebiasain diri, mensyukuri tiap hal kecil yang terjadi saat ini, karena bukan ga mungkin di masa depan saya bakal kangen masa-masa sekarang, menulis sebuah racauan di tengah hujan Kota Bogor.

Terkadang juga muncul racauan di kepala semacam “Coba kalo dulu gak X”, “Seandainya dulu gw Y”, yang sialnya bisa mengganggu dan menghancurkan mood dalam sekejap. Padahal kan toh kata seandainya, coba kalo, dan kawan-kawannya itu gak bisa merubah keadaan yang terjadi sekarang kan. Yang ada seharusnya kita bisa belajar dari hal-hal yang telah terjadi, sehingga jangan sampai kita mengulangi kesalahan yang sama di masa yang akan datang.

Karena pada akhirnya sih gak ada kesempurnaan dalam hidup, pasti ada senengnya dan ada gak senengnya, meskipun kita lebih cenderung inget hal-hal yang menyenangkan aja. Jadi sih semoga nantinya, ke depannya, saya bisa lebih menikmati hidup di masa sekarang. Karena katanya, hal yang paling jauh dari manusia itu adalah waktunya yang telah berlalu. Seindah apapun masa lalu, ya itu udah terjadi dan ga bisa diulangin lagi. Sepahit apapun kondisi sekarang, itulah kenyataan hidup yang harus dijalanin. Kalo masa sekarang dipakai terus-terusan merenungi dan menyesali masa lalu, bisa-bisa masa depan kita juga akan habis untuk menyesali masa-masa sekarang yang kita pakai untuk menyesali masa-masa lalu kita (ribet ya? Gitu deh pokoknya..)

Kalo katanya orang-orang bijak sih:

The clock is running. Make the most of today. Time waits for no man. Yesterday is history. Tomorrow is a mystery. Today is a gift. That’s why it is called the present.

Yah, simpelnya, semoga di masa depan nantinya saya gak menyesal pernah menulis racauan seperti ini🙂

Shi*t Happens, be Grateful!

Halo! Gak kerasa udah cukup lama dari terakhir kali saya menulis di blog ini. Campuran antara kemalasan, kesibukan, dan kebanyakan-ide-buat-nulis-sehingga-bingung-apa-yang-mau-ditulis membuat untuk kesekian kalinya saya gagal menepati janji untuk menulis secara teratur.

Anyway..

Jadi ceritanya hari Sabtu tanggal 27 Juli yang lalu ada acara buka bersama temen-temen yang dulu pernah bareng-bareng rapat sampe malem di kampus, janjiannya di Senayan City jam 4 sore. Jika acara ini diadakan sekitar 2-3 bulan yang lalu, saya kemungkinan besar akan memilih menggunakan KRL Commuter Line untuk menuju lokasi. Namun mengingat akhir-akhir ini tingkat keterlambatan dan kepadatan KRL meningkat secara eksponensial, saya memutuskan untuk mengendarai mobil kesayangan, Peugeot 307 China Blue, sebut saja namanya Kristina.

Rasanya tidak ada yang salah saat saya berangkat dari rumah, jalan yang saya pilih tepat sehingga saya dapat menuju pintu tol Bogor tanpa hambatan berarti. Semua berjalan seperti biasanya, sampai pada akhirnya saya memutuskan menepi di Rest Area KM 21 arah Jakarta untuk shalat ashar dan mengisi bahan bakar. Selepas keluar dari Rest Area tersebut, indikator suhu kendaraan menunjukkan peningkatan drastis, temperatur mesin yang biasanya bekerja di kisaran 80-90 derajat, naik menjadi sekitar 100 derajat. Meskipun terkejut, saya tetap harus mengambil keputusan, apakah akan berhenti, keluar dari pintu tol terdekat, atau lanjut. Mengaplikasikan logika sederhana, dimana panas akan turun jika terkena hembusan angin kencang, saya memutuskan menginjak pedal gas lebih dalam guna mendinginkan mesin. Voila! Tak lama kemudian “demam” Kristina berangsur-angsur membaik. Temperatur kembali ke kisaran 90-95 derajat. Saya mulai bernafas lega dan timbul di kepala semacam pikiran oh-mungkin-tadi-cuma-kebetulan-aja.

Namun, memang bener kata orang, ga ada asap kalo ga ada api. Selepas pintu tol dalam kota Jakarta, kemacetan terjadi, dan “demam” kristina melonjak tinggi. Bahkan saya sampai sekarang masih inget jelas rasa panik pas ngeliat jarum temperatur mesin mentok ke area panas yang bahkan saya gak tau itu suhu berapa. Alarm berbunyi, MID memperingatkan tentang temperatur mesin yang katanya sudah membahayakan. Tak ada pilihan lain, Kristina mengalami demam tinggi, overheat, saya harus segera menepikan kendaraan dan segera mematikan mesin.

Mobil sudah ditepikan dan mesin sudah dimatikan, now what? Karena berkaitan dengan suhu, tentu saja yang pertama kali saya lakukan adalah membuka kap mesin dan memeriksa radiator, yang saya yakin bahwa airnya masih penuh saat saya berangkat tadi. Yang terjadi sesuai dugaan, air meluap keluar karena pengaruh tekanan dan panas mesin. Oke, saya gak bisa apa-apa kalo gini caranya. Tindakan selanjutnya mencoba menelpon Peugeot Siaga, kebetulan nomernya ada di dekat kaca depan Kristina, yang terdengar hanyalah suara tut..tut..tut.. gak ada yang ngangkat. Baiklah, mari telpon orang tua ngabarin bencana yang terjadi dan sms temen-temen bilang saya gak bisa dateng.

Gak lama berselang, sebuah mobil patroli polisi jalan tol menepi di belakang mobil saya. Dengan ramah petugas tersebut menyapa dan menanyakan ada masalah apa. Setelah memberi penjelasan (dan meminta jaminan keamanan dari derek liar, maklum agak paranoid), petugas tersebut dengan ramah menawarkan untuk memanggilkan derek resmi jalan tol. Agak lega rasanya setelah mendapat bantuan dan jaminan bahwa kendaraan derek resmi sedang menuju lokasi.

Setibanya di lokasi, petugas derek resmi yang terdiri dari 2 orang ini menanyakan masalah kendaraan saya. Tentunya karena saya kira masalahnya di radiator, saya meminta air untuk kembali mengisi air radiator. Namun ternyata, setelah ditambah air pun masalah tidak berhenti, tampaknya masalah ada di extra fan dan bukan radiatornya. Gak ada jalan lain, mobil harus diderek, tapi… ke mana…? Petugas derek menawarkan untuk dibawa ke bengkel resmi dengan tambahan sejumlah biaya (FYI, derek resmi cuman sampe gerbang tol terdekat gratisnya), yang menurut saya sangat masuk akal dan tidak memeras, mengingat lokasi bengkel resmi ada di daerah Sunter, masih cukup jauh dari tempat kendaraan saya berhenti.

Pemandangan dari dalam Kristina yang lagi diderek

Pemandangan dari dalam Kristina yang lagi diderek

Sepanjang perjalanan, saya bercakap-cakap dengan petugas tersebut, percakapannya cukup menarik, mungkin nanti akan saya tulis di post lain hehe, terlalu panjang kalau ditambah disini. Singkat kata, mobil akhirnya tiba di Astra Peugeot Sunter, setelah didata oleh satpam dan mengambil tanda terima, saya pun meninggalkan Kristina di bengkel tersebut. Luar biasanya, kedua petugas derek tadi berbaik hati untuk mengantarkan saya sampai ke tempat dimana saya bisa menunggu bis untuk pulang ke Bogor. Well, walau batal ikut buka bersama, setidaknya saya bisa sampai ke Bogor dengan selamat.

Kalau dipikir-pikir, dibalik malapetaka tadi, saya masih harus banyak bersyukur atas banyak hal, Alhamdulillah saya memutuskan untuk lanjut dan gak puter balik di pintu keluar terdekat, soalnya kalau harus berhenti di luar tol, masalahnya akan lebih runyam. Alhamdulillah juga dipertemukan dengan petugas patroli dan petugas derek yang jujur dan baik hati, sehingga perasaan menjadi lebih tenang dan kantong juga gak kempes, gak kebayang deh kalo ketemunya ama derek liar. Alhamdulillah lagi kejadiannya di Jakarta, jadi mobil masih bisa dibawa ke bengkel resmi terdekat, coba kalo kejadiannya di Lintas Sumatra pas saya mudik ke Lampung, pasti lebih runyam masalahnya. Alhamdulillah waktu kejadian masih cukup terang, jadinya walau harus terpaksa berhenti, situasinya masih cukup aman. Dan masih banyak lagi hal yang bisa disyukuri dari kejadian di atas tadi, things could have been a lot worse anyway.

Selama ini saya gak pernah harus terhenti di tengah jalan karena masalah pada kendaraan, ternyata biar bagaimanapun kita udah berusaha mengantisipasi (servis rutin, cek sebelum berangkat, dll.), masih ada masalah yang bisa timbul tanpa diketahui. Yang paling penting, saya bersyukur bisa mengambil pelajaran dari kejadian ini, dan sekarang saya makin percaya bahwa masih banyak orang baik di luar sana. Dan satu hal lagi, akhirnya saya ngerasain naik mobil yang diderek :p

Terima kasih buat Pak Polisi, Bapak petugas derek 1, Bapak petugas derek 2, dan satpam bengkel yang semuanya saya lupa menanyakan namanya. Semoga Allah membalas kebaikan bapak-bapak semua.

In the end, I got some valuable lessons learned that makes me grateful🙂

Review Film : Pacific Rim

Pacific Rim

Kenyang mata! Mungkin dua kata ini yang bisa menggambarkan perasaan saya setelah nonton film “Pacific Rim” versi IMAX 3D. Film ini merupakan film IMAX 3D ke-2 yang saya tonton, dan rasanya kali ini jauh lebih puas dibandingkan saat nonton “Prometheus” dulu.

Film ini bercerita tentang masa depan fiktif dimana makluk yang dinamakan Kaiju, yang sepertinya masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Godzila, bermunculan dari dalam lautan dan mengganggu kehidupan manusia di muka bumi. Untuk menjaga keberlangsungan kehidupan di muka bumi, manusia membuat senjata berupa robot yang tidak kalah besarnya yang di film ini disebut dengan Jaeger. Nah, Jaeger ini sendiri dipiloti oleh dua orang yang pikirannya saling terhubung melalui neural bridge, intinya saat pikiran kedua orang tersebut saling terhubung, mereka saling mengetahui pikiran dan perasaan satu sama lain, jadi sepertinya sih agak berbahaya kalo yang mengendarai Jaeger adalah pasangan suami istri yang salah satunya selingkuh. Jaeger ini juga dilengkapi dengan persenjataan yang beragam, mulai dari pedang, gergaji mesin, sampai Plasma Gun.

Secara garis besar, inti dari film ini sendiri hanya 3 kata, Jaeger, Kaiju, bertarung. Alur cerita dari film ini terkesan hanya menjadi pelengkap saja, plotnya ringan dan mudah ditebak. Mungkin inilah yang dimaksud oleh sang sutradara Guilermo del Toro saat menjelaskan bahwa Pacific Rim adalah film yang “incredibly airy and light feel”, memang film ini sangat berbeda dengan karyanya terdahulu “Pan’s Labyrinth”, yang alur ceritanya cukup kompleks. Tapi menariknya, justru karena alur yang ringan itulah saya merasa tidak perlu terlalu banyak berpikir sehingga mampu lebih menikmati adegan pertarungan robot raksasa melawan monster raksasa dengan special effect yang luar biasa. Kaum pria yang masa kecilnya akrab dengan mainan robot-robotan kemungkinan besar terpuaskan saat melihat adegan pertarungan di film ini, adegan pertarungan jarak dekatnya sangat dahsyat, pukul, lempar, tangkis, dan berbagai macam adegan pertarungan tersaji disini.

Rasanya tidak perlu lagi menjelaskan film ini secara panjang lebar, intinya film ini sangat layak untuk ditonton di teater berteknologi IMAX 3D. Datang, duduk, nikmati filmnya tanpa perlu banyak berpikir, tidak perlu juga banyak berkomentar tentang keanehan yang mungkin anda rasakan di beberapa adegan film ini, dan mungkin di akhir film anda akan memahami apa yang saya maksud dengan “Kenyang Mata”.

Sit back, relax, feel, do not think, and enjoy the movie!🙂

P.S: Jangan buru-buru keluar dari theater, ada sedikit adegan tambahan setelah ending credit😉

Sirkuit Kehidupan

Image

Pernah nonton Formula 1 atau MotoGP? Atau setidaknya tau tentang kedua kosakata tersebut? Singkatnya sih keduanya sama-sama ajang adu kecepatan kendaraan di sirkuit. Setiap pembalap akan mengelilingi sirkuit sejumlah putaran yang telah ditentukan, dan berlomba untuk mencapai garis finish terlebih dahulu. Saya dapat dikatakan cukup menggemari kedua acara ini, setiap kali ada balapan, saya selalu berusaha menyisihkan waktu untuk menyaksikannya, walaupun hanya dari layar kaca.

Disini sih saya ga akan ngebahas tentang bagaimana hebatnya Fernando Alonso mendahului lawan-lawannya di hairpin, saya juga ga akan ngebahas tentang gimana hebatnya Valentino Rossi melibas setiap tikungan dengan kecepatan tinggi di sirkuit balap, sama sekali enggak, seperti biasanya, tulisan saya ini kembali memaksakan hubungan antar hal yang sebenernya ga ada nyambung-nyambungnya.

Kalau diperhatikan (sebenernya ga perlu diperhatiin juga sih, hal umum kok ini), balapan di sirkuit memiliki sebuah karakteristik, dimulai dari garis start, diakhiri di garis finish, yang mana garis start dan garis finish itu sendiri berada di tempat yang sama. Jadi intinya mau sudah puluhan lap yang dilalui, perpindahan kendaraan dapat dikatakan hampir mendekati nol (ya ya ya, I know, ada jarak dari garis finish ke parc ferme, tapi anggep aj hampir nol deh ya..*maksa*). Dalam balapan, hal ini gak masalah, karena emang tujuan akhirnya ialah menjadi yang tercepat melintasi garis finish, tapi coba dipikir, gimana kalo hal ini terjadi dengan hidup kita.

Pernah gak ngerasa kalo hari-hari berlalu begitu saja? Membuka mata bangun pagi, menjalankan aktivitas di siang hari, pulang ke rumah di malam hari, lalu tidur, rasanya hidup gitu-gitu aja. Capek, tapi ya ga berasa ada peningkatan apa-apa. Sama aja seperti kendaraan yang sedang berjalan di sirkuit, mau ngebut habis-habisan pun, ujung-ujungnya akan berakhir di tempat yang sama. Mau semua tenaga udah dikerahkan buat ngelakuin yang terbaik setiap harinya pun, yang ada cuman ngerasa capek aja, tapi progress hampir mendekati nol. Mungkin ini semua terjadi karena gak adanya tujuan hidup.

Tanpa tujuan, kita gak tau harus ke mana, kita gak tau usaha yang kita lakukan untuk apa, dan pada akhirnya mungkin kita bakal ngerasa stuck, hidup seakan ga ada perkembangan, hanya rutinitas biasa yang harus dijalani. Beda sekali kalau kita tahu ingin ke mana, meskipun dalam sehari progress nya hanya selangkah, tapi karena kita yakin selangkah itu menuju ke arah yang benar, kita bisa tersenyum puas. Tujuan akhir dari balapan di sirkuit adalah kembali ke garis awal, tapi apakah seperti itu dalam hidup? Saya rasa tidak, rugi sekali orang yang hari ini tidak lebih baik dari hari kemarin, apalagi jika hari ini lebih buruk dari hari kemarin.

Saya pernah merasa terjebak dalam sirkuit kehidupan tersebut, dan apa yang saya lakukan sekarang? Pitstop! Berhenti sejenak, mengatur ulang setting kehidupan, mengorbankan sedikit waktu, demi nanti-nanti yang lebih baik. Percuma aja terus-menerus menghabiskan tenaga kalau masih gak tau untuk apa tenaga itu dihabiskan. Lebih baik berhenti sejenak, berpikir, tentukan tujuan, ubah hal-hal yang gak sesuai, sehingga nantinya tenaga yang dikeluarkan gak akan sia-sia.

Seperti di balapan, saat melakukan pitstop tentu ada waktu yang dikorbankan, yang membuat progress kita lebih lambat, tertinggal dari rekan-rekan lain. Tapi hey, saat setting yang tepat sudah ditemukan, kita dapat melaju lebih cepat, mengejar ketertinggalan, dan mungkin malah dapat melesat jauh ke depan. Dan sekali lagi, kalau harus menganalogikan kehidupan dengan balapan, tampaknya analogi yang tepat adalah bukan dengan balapan sirkuit, tapi dengan reli, dimana kalau kita gak tahu tujuannya ke mana, mau mengemudi secepat apapun kita gak akan pernah menyentuh garis finish.

Satu hal lagi yang penting, kalau hanya membicarakan soal duniawi hidup ini sebenernya bukan balapan, setiap orang punya tujuan yang berbeda, dan cara yang berbeda pula mencapainya. Toh pada akhirnya yang kita kejar adalah kebahagiaan, dan definisi kebahagiaan itu akan berbeda bagi tiap orang. Jadi kenapa harus memaksakan diri bersaing dengan yang lain? Yuk coba berhenti sebentar, berpikir, apa sih yang sebenernya mau kita capai dalam hidup? Semoga kita ga termasuk orang-orang yang menghabiskan tenaga tanpa tahu harus ke mana. Semoga suatu saat nanti, kita bisa mencapai garis finish dan dapat dengan bangga mengingat perjuangan kita untuk sampai ke sana.

Well, in the end, happiness is a state of mind anyways🙂

Two-enty Five!

Image

Jadi ceritanya harusnya tulisan ini dibikin sekitar dua hari yang lalu, namun karena males sesuatu dan lain hal, jadi barulah dibikin sekarang.

Ada yang bilang waktu itu relatif, bener juga kalo dipikir-pikir. Rasanya waktu mulai kuliah dulu, masa-masa SD itu udah lama banget berlalu. Rasanya juga, kalo diinget-inget sekarang, masa awal kuliah tuh kayak baru aja dialamin. Oke, coba kita lihat realitanya, lulus SD tahun 2000, masuk kuliah 2006, dan sekarang tahun 2013. Ternyata jarak dari awal kuliah ke SD tuh “cuman” 6 tahun, dan jarak dari awal kuliah ke saat sekarang udah 7 tahun! Jadi rasanya kata-kata orang tua saya yang sering bilang “Rasanya baru kemaren kamu segede gini * sambil kasih isyarat tangan yang menyatakan bahwa saya pernah bisa masuk ke kolong meja tanpa harus jongkok *, ga kerasa sekarang udah kerja aja”, menjadi masuk akal. Tampaknya persepsi kita terhadap waktu terus berubah seiring dengan semakin lamanya kita menjalani hidup di dunia.

Waktu masih anak-anak, kalo ngeliat orang kuliahan itu rasanya udah kayak liat orang gede, ngebayangin pasti udah dewasa banget kalo udah mulai kuliah, apalagi kalo udah kerja. Kenyataannya sekarang? Rasanya masih sama aja kayak dulu, masih seneng main, nonton kartun, bakan nyanyi-nyanyi di kamar mandi. Terkadang penasaran, kalo diri saya yang sekarang ini bisa terlihat oleh saya di masa kecil dulu, kira-kira saya bakal tetep ngeliat saya versi gede ini kayak saya mandang orang-orang gede lain di masa kecil dulu gak ya?

Anyway, sekarang saya tiba di pertengahan usia 20-an, yang mana menurut kabar, usia antara 20-30 diri seseorang bakal mengalami banyak perubahan, masa-masa transisi dari akhir masa remaja ke masa dewasa. Dari sekian banyak hal yang telah terjadi, baik yang direncanakan maupun gak direncanakan, pertanyaannya sekarang, udah sampai dimanakah saya saat ini?

Ngeri juga ngebayangin waktu yang berputar makin cepat, setidaknya menurut perasaan kita, tau-tau nanti gak kerasa udah habis waktu tinggal di dunia ini. Persoalan waktu ini dari zaman dulu sampai nanti akhir zaman harusnya hanya masalah “kau gunakan untuk apa waktumu?” , ini pertanyaan klasik yang sebenernya gampang dijawab, tapi masalahnya lagi, segimana berbobot jawabannya. Semua orang punya waktu yang sama, sehari versi Matt Damon 24 jam, sehari versi Bill Gates juga 24 jam, dan tentunya sehari versi saya juga 24 jam. Tapi kayak yang bisa diliat sekarang, Matt Damon ada dimana, Bill Gates sibuk ngapain, dan saya masih sibuk duduk disini bikin tulisan ini.

Terkadang saya coba melihat ke atas, banyak orang di usia yang sama, atau bahkan lebih muda dari saya sudah bisa melakukan hal-hal yang bahkan ngebayanginnya aja saya gak pernah. Gak usah jauh-jauh, banyak temen-temen yang saya kenal yang udah ngelakuin hal-hal luar biasa di usianya yang relatif masih sangat muda. Iri? Tentu, siapa yang gak ingin melakukan hal-hal hebat yang bisa membawa banyak manfaat bagi orang banyak. Tapi kalo dipikir lebih jauh, kenapa saya harus iri kalau ternyata usaha yang mereka lakukan jauh berlipat ganda dari usaha yang saya lakukan. Bukankah Tuhan sendiri Maha Adil? Setiap orang akan mendapatkan yang sesuai dari apa yang diusahakn.

Intinya, sekarang saya masih jauh ketinggalan dari banyak orang, setidaknya saya bersyukur saya masih diberi kesadaran buat menyadari hal tersebut. Lalu sekarang, kembali ke pertanyaan klasik tentang waktu, mau digunakan untuk apa waktu yang saya miliki ini? Tetap seperti kemarin-kemarin yang hasilnya begini-begini saja? Atau mencoba hal-hal baru yang mungkin akan memberikan hasil yang berbeda? Cuma waktu yang bisa menjawab.. Semoga nanti, suatu hari entah kapan, saat saya kembali membaca tulisan ini, saya bisa tersenyum mengingat hal-hal yang saya lakukan dalam jeda waktu dari sekarang, sampai suatu hari nanti tersebut🙂

Analogi Sepatu

Sudah sekian lama sejak terakhir kali saya menuliskan sesuatu di blog ini. Ya, ada alasan tersendiri kenapa saya malas nulis, karena menulis mengingatkan saya pada sesuatu, yang sebenernya indah untuk dikenang, tapi akan lebih baik kalau disimpan rapat-rapat🙂

Dari kalimat pembuka dan pemberian kategori ‘racauan’ pada tulisan ini, cukup jelas bahwa isi dari tulisan ini adalah tumpahan isi kepala dan hati yang sedang patah bergejolak. Jadi kalau sekiranya di hari kesehatan mental sedunia ini anda yang membaca tulisan ini (kalau ada) mengharapkan tulisan yang membuat tersenyum, stop, silahkan pilih bahan bacaan lain.. Hehe..

Sepatu

Anyway,
Tau sepatu? *pertanyaan macam apa ini*
Yup, sepatu yang saya maksud memang sepatu yang biasa kita gunakan untuk alas kaki. Bentuk dan warnanya macem-macem , bahannya juga macem-macem. Bahkan dari model sepatu yang sama pun ukurannya bisa beda-beda. Nah, dari berjuta model dan ukuran sepatu tersebut, tingkat kesukaan tiap orang juga beda-beda, mungkin sepatu X yang disenengin ama si A justru dianggep jelek ama si B.

Saya termasuk orang yang ribet kalo pilih sepatu. Pernah muter-muter keluar masuk toko sepatu berjam-jam dan akhirnya ga jadi beli karena ga nemu model yang pas. Sebaliknya, pernah juga maksain beli sepatu yang ukurannya ga pas, karena ngerasa modelnya bagus banget, ya ujung-ujungnya ga kepake sih akhirnya sepatunya.

Saya percaya, masing-masing dari kita punya kriteria tersendiri dalam memilih sepatu, saya misalnya selalu pilih sepatu yang ga ada tali-nya ini syarat mutlak saya dalam memilih sepatu, makannya suka susah kalo milih sepatu soalnya ga terlalu banyak pilihan model sepatu tanpa tali. Nah, karena relatif jarangnya keberadaan sepatu tanpa tali, pernah sekalinya nemu model sepatu yang oke banget, saya nekad beli, padahal ukurannya gak pas. Hasilnya? Jelas ga nyaman dipake.

Nah, berhubungan dengan cerita sepatu tadi, ada kalanya persoalan kehidupan ini mirip dengan kondisi memilih sepatu tadi. Terkadang kehidupan menghadapkan kita pada keadaan yang memenuhi apa yang kita cari selama ini, tetapi ada suatu hal yang emang ngebuat kita ga bisa memaksakan diri untuk tetap berada pada keadaan tersebut. Layaknya udah nemu sepatu yang modelnya oke, harganya pas, warnanya indah, tapi ukurannya gak pas. Memang, kalo ngikutin yang namanya emosi, pasti awalnya rasanya pengen banget tetep make sepatu tersebut, ‘ah cuman sempit sedikit kok’, ‘ah lama2 juga melar’, dan masih ada banyak alasan lainnya yang bisa menjustifikasi tindakan tersebut. Tapi kalo dipikir baik-baik, buat apa sih terlihat oke kalo ternyata emang ga enak, nyiksa malah, ujung-ujungnya bikin kaki lecet atau bahkan bisa bikin sepatunya jebol kalo dipaksain tetep dipake. Tapi tetep aja ada rasa ‘ga rela’ kan ngelepasin sepatu yang udah kita rasa paling oke dan memenuhi semua kriteria yang kita inginkan dari sebuah sepatu?

Hal seperti ini yang menuntut kedewasaan dan penggunaan akal sehat secara benar-benar sehat. Mungkin ya emang ga pas aja, mungkin emang waktunya yang salah, atau banyak mungkin-mungkin lainnya yang bisa terus menjadi pertanyaan. Yang perlu diyakini sekarang, saat ini emang ‘sepatu’ dan ‘kaki’ ini ga bisa dipaksakan untuk berjalan bersama. Entah di waktu yang akan datang. Mungkin si ‘kaki’ bakal nemu sepatu lain yang lebih cocok, mungkin si ‘sepatu’ bakal nemu kaki dengan ukuran yang pas buat mengenakannya, atau mungkin secara ajaib nanti ukuran ‘kaki’ ataupun ‘sepatu’ bisa jadi pas? Who knows, miracle do come true anyway🙂

Tapi buat sekarang, daripada bikin kaki lecet dan sepatu jebol *yang mana jadi zero sum game* , katakanlah emang harus diikhlaskan bahwa sepatu itu bukan buat saya. Berat sih, banget malah, tapi sesuai dengan kata-kata mutiara yang saya dapatkan di social media sebelah : “Melepaskan bukan berarti menyerah, tetapi lebih kepada memahami bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dipaksakan”, memang harus diikhlaskan demi kebaikan bersama, lagi-lagi saya dapat pelajaran hidup yang berharga🙂

Teringat potongan lirik lagu zaman masih muda dulu *sekarang juga belum tua sih* :

Ternyata kita sampai pada jalan yang berlainan arah,
Ternyata kita harus memilih,mana jalan yang terbaik tuk semua..

Semua yang terjadi ga akan sia-sia..
Semoga ini memang jalan yang terbaik untuk semua..
Saya percaya🙂

Ditulis di atas CommuterLine SUD-BOO, 101012 17:40, di tengah mendungnya langit Depok..